BPBD Kubar Catat Penurunan Karhutla di Tahun 2025
- 07 Feb 2026 11:24 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat (Kubar) mencatat sejumlah potensi bencana yang kerap terjadi di wilayah tersebut, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran permukiman hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kubar, Bambang Pramudito, mengatakan tren karhutla pada 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau tahun 2024 kejadian karhutla itu mencapai 86 kasus, sedangkan di tahun 2025 turun menjadi 51 kejadian. Artinya ada penurunan yang cukup signifikan,” ujar Bambang, Sabtu 7 Februari 2026.
Ia menambahkan, pada 2024 musim penghujan lebih dominan dibandingkan musim kemarau, sementara saat ini suhu udara di Kubar, masih tergolong panas, berkisar 33 hingga 34 derajat Celsius, dengan hujan yang turun di beberapa wilayah saja dan tidak merata.
Terkait antisipasi banjir dan longsor, Bambang menyebut pihaknya telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat.
“Untuk banjir kami sudah menghimbau masyarakat agar mengantisipasi. Termasuk saat terjadi longsor di Kampung Banggeris, Sungai Kedang Pahu, Kecamatan Damai, syukurnya tidak ada korban jiwa. Artinya warga sudah waspada dan himbauan kami sampai ke masyarakat,” ucapnya.
Berdasarkan pantauan terakhir, kata Bambang, curah hujan pada Januari hingga Maret masih tergolong tinggi. Bahkan sebelumnya BPBD telah menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi basah di beberapa titik.
“Kami sudah melakukan rapat lintas OPD bersama TNI dan Polri. Jadi kita benar-benar siap, termasuk peralatan yang dimiliki BPBD Kubar,” katanya.
BPBD juga telah memetakan sejumlah wilayah rawan banjir dan karhutla. Untuk banjir, kawasan bantaran Sungai Mahakam seperti Kecamatan Long Iram, Tering, Melak, Muara Pahu dan Penyinggahan menjadi perhatian.
Selain itu, daerah aliran Sungai Kedang Pahu di Kecamatan Nyuatan, Damai, dan Muara Lawa juga berpotensi terdampak.
Sementara karhutla kerap terjadi di wilayah Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Muara Pahu, Penyinggahan, dan Bongan. Dalam upaya pencegahan karhutla, BPBD telah membentuk dan melatih Masyarakat Peduli Api (MPA).
“Kami sudah melatih 490 orang dan tahun ini akan menambah pelatihan bagi 493 orang. Mereka inilah yang akan bergerak cepat di lapangan saat terjadi karhutla,” ujar Bambang.
Namun demikian, ia mengakui peralatan sistem peringatan dini atau early warning system untuk kebencanaan hingga kini belum tersedia di Kubar.
Bambang juga menyebut BPBD Kubar telah menjalin memorandum of understanding (MoU) dengan BPBD Kutai Kartanegara dan Mahakam Ulu untuk saling membantu saat terjadi bencana.
“Ketika ada banjir bandang di Mahulu, kami akan bersinergi, termasuk membantu pendistribusian bantuan di titik-titik pelabuhan yang terendam. Kami juga sudah membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) dan memasang rambu-rambu di kampung rawan bencana,” katanya.
Ia menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menjelang puncak musim hujan pada Februari.
“Kami minta masyarakat bersiap, petugas kami juga akan selalu berada di tengah masyarakat untuk penanganan bencana,” ucap Bambang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....