20 Tahun tanpa Peremajaan, PODSI Kubar Hadapi Krisis Sarana Latihan
- 18 Jun 2026 05:26 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Kondisi sarana dan prasarana latihan atlet dayung di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur cukup memprihatinkan.
Pengurus Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) mengungkapkan bahwa peralatan latihan untuk kelas kayak dan kano tidak pernah tersentuh bantuan atau penambahan sejak tahun 2006, atau sejak era kepemimpinan Bupati Ismail Thomas. Keterbatasan ini berdampak langsung pada kualitas persiapan atlet.
Sekretaris Umum PODSI Kutai Barat, Perdana Arisetiawan, menjelaskan minimnya alat membuat tim pelatih kesulitan menentukan tolak ukur performa atlet di tengah ketatnya persaingan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026.
"Peralatan yang bisa kami gunakan saat ini sangat terbatas. Perahu kayak 1 hanya satu, begitu juga perahu kayak 2, kayak 4, kano 1, dan kano 2 juga hanya tersisa satu-satu unit yang layak pakai. Karena alat tandingnya kurang, kami tidak memiliki barometer yang akurat untuk mengukur kemajuan program latihan atlet," ujar Iwan saat menerima kunjungan Ketua KONI Kubar di Danau Kelumpang, Selasa 16 Juni 2026.
Lebih jauh, Iwan membeberkan bahwa beban operasional tim semakin berat karena peralatan untuk kategori dragon boat selama ini hanya mengandalkan milik klub pribadi, bukan aset milik PODSI. Kondisi ini membuat organisasi olahraga yang kerap menyumbang medali emas tersebut harus bekerja ekstra keras dengan fasilitas seadanya.
“Latihan atlet sekarang makin sulit, sementara kita harus menghadapi Porprov yang tinggal beberapa bulan,” kata Iwan risau.
Pelatih: Di Balik Keterbatasan, Kami Tetap Berjuang untuk Nama Kutai Barat
Menjadi pelatih dayung di Kutai Barat bukanlah tugas yang mudah. Di balik prestasi emas yang kerap diraih, Joni Anwar, pelatih senior yang telah berkecimpung sejak tahun 2010, menghadapi tantangan nyata, yaitu regenerasi atlet dan minimnya fasilitas.
Joni tidak menampik bahwa saat ini ia harus bekerja ekstra keras karena tim dayung Kutai Barat kini didominasi oleh atlet junior. Sekitar 80 persen atlet peraih medali di ajang sebelumnya kini telah menempuh jalan hidup masing-masing, mulai dari bekerja di perusahaan hingga membangun rumah tangga.
"Atlet senior kita sudah banyak yang tidak bisa ikut karena tuntutan pekerjaan dan urusan pribadi. Khusus untuk atlet putri saja, hanya tersisa dua orang senior, sisanya benar-benar wajah baru," kata Joni.
Meski demikian, Joni menolak untuk berkecil hati. Ia menggunakan pengalamannya selama belasan tahun untuk meracik program latihan yang intens namun tetap menjaga kondisi fisik atlet agar tidak kelelahan atau drop sebelum masa perlombaan tiba.
"Biasanya kami menerapkan pola latihan yang keras di awal, namun saat mendekati waktu keberangkatan, intensitasnya kami kendurkan. Tujuannya agar fisik anak-anak tetap terjaga. Kami berusaha semampu mungkin untuk tetap menyumbangkan medali dan mengharumkan nama Kutai Barat," katanya, menambahkan.
Namun, Joni menyadari bahwa semangat saja tidak cukup tanpa dukungan sarana yang memadai. Ia pun menitipkan harapan besar kepada pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih pada ketersediaan peralatan latihan.
"Sebagai pelatih, kami ingin memberikan yang terbaik. Tapi jujur, tanpa dukungan pemerintah terutama pemenuhan sarana dan prasarana yang menunjang, kami sulit untuk berkembang lebih jauh. Jika nanti hasil yang dicapai tidak sesuai harapan, itu pun kemungkinan besar karena keterbatasan alat dan minimnya porsi latihan yang kami miliki," ucapnya jujur.
Walau menghadapi rintangan berat, Joni tetap konsisten memotivasi para atlet juniornya. Ia ingin memastikan bahwa api semangat di Danau Kelumpang tidak padam.
"Tugas kami saat ini adalah mengembalikan semangat anak-anak agar mereka berlatih sekuat mungkin. Kami akan berjuang semampu kami demi medali emas untuk Kutai Barat," katanya penuh tekad.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua KONI Kabupaten Kutai Barat, Alsiyus, berkomitmen untuk segera melakukan pembenahan. Ia berjanji akan mengupayakan lobi ke pemerintah daerah guna meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana latihan agar para atlet dapat berlatih secara optimal.
"Semangat juang atlet tidak boleh padam hanya karena fasilitas. Saya akan berupaya keras memperjuangkan peningkatan sarana prasarana ini. Bagaimanapun, prestasi membutuhkan dukungan fasilitas yang memadai agar atlet kita bisa lebih berkembang dan maju ke depannya," ujar Alsiyus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....