BPMP Sebut Kemampuan Membaca, Matematika dan Sains Siswa Indonesia Terus Menurun
- 07 Okt 2026 11:20 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Timur menyebut kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains masih menghadapi tantangan. Data Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan ketiga kemampuan tersebut mengalami penurunan setelah mencapai capaian tertinggi pada 2015.
Fungsional Widyaprada BPMP Provinsi Kalimantan Timur, Santian Datulayuk, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan dalam proses pembelajaran. Siswa tidak cukup hanya menghafal materi, tetapi harus mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan data PISA yang dipaparkan dalam Bimbingan Teknis Digitalisasi Pendidikan di Sekolah Transformasi Kutai Barat, skor membaca Indonesia turun dari 397 pada 2015 menjadi 359 pada 2022. Skor matematika juga turun dari 386 menjadi 366, sedangkan sains turun dari 403 menjadi 383 pada periode yang sama.
Santian mengatakan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
“Jadi sebenarnya pendidikan kita itu saat ini dalam kondisi tidak baik-baik saja. Artinya bahwa menurut data dari OECD, kemampuan literasi numerasi murid-murid kita itu masih sangat rendah,” kata Santian. pada Rabu 7 Oktober 2026.
Menurutnya, persoalan tidak hanya terletak pada kemampuan siswa menghafal rumus atau materi pelajaran, tetapi pada kemampuan memahami konteks dan menerapkannya.
Ia mencontohkan siswa yang mengetahui rumus luas, tetapi kesulitan ketika harus menghitung kebutuhan ubin berdasarkan ukuran sebuah ruangan.
“Mereka cuma tahunya panjang kali lebar itu luas. Tapi kalau sudah diaplikasikan di ruangan kelas, misalnya berapa sih butuhnya ubin dengan kelas panjang lebarnya segini, itu mereka sudah enggak bisa. Itu karena pemahaman mereka itu kurang mendalam terhadap sebuah mata pelajaran,” ujarnya.
Santian mengatakan pemerintah kini mendorong pembelajaran mendalam agar siswa tidak hanya menghafal, tetapi memahami konsep dan mampu menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.
Ia menilai digitalisasi pendidikan dapat menjadi salah satu sarana untuk mendukung perubahan tersebut. Peserta didik yang sudah akrab dengan teknologi dinilai lebih mudah tertarik ketika guru menyajikan materi melalui konten digital yang edukatif.
“Kalau kita bawa ke dalam konten yang lebih menarik, konten-konten digital tapi berisi dengan edukasi itu akan menarik mereka. Dan mereka itu lebih cepat paham kalau menggunakan digital,” ucapnya.
Dalam Bimtek tersebut, guru juga dilatih memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) untuk membuat pembelajaran lebih interaktif melalui permainan, kuis, dan konten edukatif.
Selain itu, Santian mendorong guru memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alat pendukung untuk mengembangkan materi pembelajaran.
“AI itu sebagai bahan pendukung untuk mempermudah guru kita itu membuat konten-konten yang interaktif kepada murid-murid kita,” katanya.
Menurut Santian, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat pemahaman siswa. Dengan demikian, digitalisasi tidak sekadar menghadirkan perangkat teknologi di sekolah, tetapi juga mendorong perubahan metode pembelajaran agar siswa lebih memahami materi yang dipelajari.
Data PISA tersebut menjadi salah satu dasar penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat kemampuan literasi, numerasi, dan sains melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....