Perkembangan Bahan Bakar Kereta Api di Indonesia
- 27 Mar 2026 22:58 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Kereta api menjadi salah satu moda transportasi di Indonesia yang cukup diminati sebagai sarana penghubung antarwilayah maupun antarkota.
Tahukah Anda, bahan bakar kereta api di Indonesia telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, mulai dari yang bersifat tradisional hingga yang lebih modern dan ramah lingkungan. Berikut penjelasannya, dirangkum dari laman Gramedia:
Jenis Bahan Bakar
Kayu Bakar
Dahulu digunakan untuk kereta uap. Kini, kayu bakar hanya dimanfaatkan pada kereta wisata seperti Sepur Kluthuk Jaladara di Solo dan Mak Itam di Sumatera Selatan, dengan kayu jati sebagai bahan bakar utama.
Batu Bara
Selain kayu, batu bara juga digunakan untuk menghasilkan uap pada lokomotif lama. Saat ini penggunaannya semakin terbatas, umumnya hanya untuk kebutuhan khusus seperti kereta wisata atau pengangkutan hasil tambang.
Minyak Bumi
Solar/High Speed Diesel (HSD)
Digunakan pada kereta diesel, termasuk Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI), terutama untuk perjalanan jarak jauh.
Biosolar
Saat ini, PT Kereta Api Indonesia menggunakan Biosolar B35, yaitu campuran 65 persen solar dan 35 persen minyak nabati (kelapa sawit). Mulai 2025, dilakukan uji coba penggunaan Biosolar B40 guna menekan emisi dan mendukung kemandirian energi nasional.
Listrik
Digunakan pada kereta listrik seperti KRL Jabodetabek, KRL Solo–Jogja, serta kereta cepat Whoosh. Energi listrik diperoleh dari jaringan listrik atas (listrik aliran atas) maupun sistem lainnya, termasuk potensi penyimpanan energi melalui baterai.
Potensi Bahan Bakar Baru
Liquified Natural Gas (LNG) tengah dievaluasi sebagai alternatif bahan bakar karena dinilai lebih efisien dan menghasilkan emisi lebih rendah, meski masih dalam tahap pengembangan di Indonesia.
Sejarah Penggunaan
Pada masa kolonial Belanda, kereta api pertama di Indonesia yang beroperasi pada 1864 menggunakan tenaga uap dengan bahan bakar kayu atau batu bara.
Memasuki tahun 1900, perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) mendatangkan lokomotif uap B22 dari Jerman yang mampu menggunakan kayu maupun batu bara, dengan kecepatan hingga 55 kilometer per jam.
Pada awal abad ke-20, minyak bumi mulai digunakan sebagai pengganti bahan bakar tradisional, sebelum akhirnya menjadi bahan bakar utama pada kereta diesel.
Sementara itu, kereta listrik pertama di Indonesia mulai beroperasi pada 6 April 1925 di rute Tanjung Priok–Jatinegara, Jakarta, dengan sistem motor listrik bertegangan 1.500 volt DC.
Perjalanan panjang penggunaan bahan bakar kereta api ini menunjukkan perkembangan teknologi transportasi yang terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Diharapkan, informasi ini dapat menambah wawasan masyarakat tentang sejarah dan inovasi perkeretaapian di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....