Ketergantungan Sektor Tambang Dinilai Hambat Transformasi Ekonomi Kubar
- 19 Jan 2026 19:18 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar – Ketergantungan Kabupaten Kutai Barat terhadap sektor pertambangan dinilai menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya transformasi ekonomi daerah. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Bappeda Litbang Kutai Barat, Florensius Steven, dalam pemaparan arah pembangunan daerah untuk tahun 2027, di Aula ATJ Kantor Pemkab Kubar, Senin, 19 Januari 2026.
Menurutnya, sektor pertambangan bersifat padat modal namun tidak padat karya, sehingga pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dan penurunan angka kemiskinan.
“Pertumbuhan ekonomi memang cukup baik, tetapi karena didominasi sektor pertambangan, manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA:
Bupati Kutai Barat Ajak Sektor Swasta Bersinergi Entaskan Kemiskinan
Florensius menjelaskan, struktur ekonomi yang bertumpu pada sektor ekstraktif juga membuat perekonomian daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan memiliki keterbatasan dari sisi keberlanjutan.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat mendorong transformasi ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada pertambangan dan mengembangkan sektor-sektor alternatif yang lebih berkelanjutan dan menyerap tenaga kerja, seperti pertanian, perkebunan, dan industri pengolahan.
Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif serta memperkuat kesejahteraan masyarakat Kutai Barat dalam jangka panjang.
BACA JUGA:
Kurangi Ketergantungan Tambang, Wabup Kubar Dorong Kembangkan Sektor Pertanian
Wakil Bupati Kutai Barat, Nanang Adriani, turut menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap tambang dengan memperkuat sektor pertanian dan perkebunan yang dinilai memiliki potensi besar serta mampu menyerap tenaga kerja.
“Ketergantungan terhadap tambang harus mulai dikurangi. Kita perlu mendorong sektor lain yang lebih berkelanjutan dan mampu menyerap tenaga kerja, salah satunya sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kutai Barat, mulai dari perkebunan sawit, karet, kakao, hingga komoditas pertanian lainnya. Selain menopang perekonomian daerah, sektor ini juga dinilai mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), struktur perekonomian Kabupaten Kutai Barat dalam empat tahun terakhir (2020–2024) masih sangat bergantung pada sektor Pertambangan dan Penggalian. Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tercatat sebagai yang terbesar, yakni 45,68 persen pada 2020, meningkat menjadi 49,15 persen pada 2021, bahkan mencapai 57,88 persen pada 2022. Meski menurun pada dua tahun berikutnya, pertambangan tetap mendominasi dengan kontribusi 49,28 persen pada 2023 dan 43,84 persen pada 2024.
Sementara itu, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap PDRB Kutai Barat. Kontribusinya relatif stabil di kisaran 12–15 persen, yakni 14,86 persen pada 2020, 14,97 persen pada 2021, sempat turun menjadi 12,27 persen pada 2022, kemudian kembali meningkat menjadi 13,98 persen pada 2023 dan 14,88 persen pada 2024.
Data ini menunjukkan bahwa meski pertanian berperan penting sebagai penopang ekonomi daerah, struktur ekonomi Kutai Barat masih didominasi sektor pertambangan. Kondisi tersebut menguatkan perlunya transformasi ekonomi agar ketergantungan terhadap sektor ekstraktif dapat dikurangi dan pembangunan ekonomi menjadi lebih berkelanjutan.