Kabut Asap Mereda, Gerobak Pentol Kembali Menyusuri Kampung
- 14 Sep 2026 21:26 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Pagi itu, langkah kaki Dafit terdengar sedikit tergesa-gesa menghampiri sepeda motornya yang sudah bersiap dengan gerobak pentol. Perlahan, tangannya menarik gas kendaraan tersebut, menyusuri jalan di pinggir Sungai Mahakam.
Tiba di lokasi penyeberangan, Dafit kemudian memilih satu dari beberapa kapal feri untuk mengantarnya menyeberangi Sungai Mahakam di Kecamatan Melak. Meski merupakan rutinitas setiap hari, pagi itu Dafit terlihat lebih bersemangat menuju sejumlah kampung di Kecamatan Mook Manaar Bulatn.
Bagaimana tidak, hari itu menjadi hari pertama pembelajaran tatap muka dimulai, setelah lebih dari dua pekan anak-anak harus Belajar Dari Rumah (BDR) karena Kutai Barat (Kubar) diselimuti kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
“Saya jualan keliling setiap hari. Mulai dari Lotoq, Gunung Rampah, Jengan, Merayaq, dan Kelumpang. Dua pekan terakhir ini agak sepi karena kabut asap, anak-anak juga belajar dari rumah,” ujar Dafit, Senin, 14 September 2026.
Dengan senyum tipis, Dafit menceritakan pengalamannya berjualan keliling. Baginya, ada kesenangan tersendiri ketika melihat tingkah anak-anak dan bisa bercengkerama langsung dengan warga di berbagai kampung yang menjadi tujuannya.
Namun, suasana itu sempat berubah. Biasanya ia melihat anak-anak beraktivitas di sekolah. Dalam dua pekan terakhir, yang ditemuinya justru gembok pintu sekolah yang terkunci rapat. Aktivitas masyarakat pun tak banyak, hanya ditemani kabut asap saat ia menyusuri jalan raya.
“Kalau asapnya terlalu pekat, saya terpaksa jualan agak siang. Tunggu asapnya sedikit hilang baru jalan. Ya jaga-jaga juga, biar gak sakit,” ujar Dafit.
Kini, senyum itu kembali terlihat di atas motor gerobak pentolnya. Anak-anak mulai kembali melakukan pembelajaran tatap muka. Aktivitas masyarakat pun perlahan menggeliat, seiring warna biru langit yang mulai terpancar dan udara yang terasa lebih segar.
Kurang lebih lima menit menyeberangi Sungai Mahakam dengan ditemani suara ketinting, Dafit akhirnya tiba di seberang. Kendaraan yang menemani hari-harinya pun distarter dengan penuh optimisme.
“Kalau harga, murah mas. Satu butir pentol Rp1.000, tahu juga sama,” ucapnya tersenyum sambil menarik gas sepeda motornya, melanjutkan perjalanan.
Di tengah udara yang mulai lebih bersih dan aktivitas warga yang kembali hidup, ada harapan sederhana yang ikut bergerak bersama Dafit, yakni dagangan kembali laku, anak-anak kembali bermain, dan hari-hari kembali berjalan seperti sebelum kabut asap datang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....