Wisnu Wardhana dan Jalan Panjang Membenahi Aset Hulu Migas
- 11 Sep 2026 21:19 WIB
- Sendawar
RRI.co.id, Samarinda - Bagi Wisnu Wardhana, pendidikan bukan sekadar jalan untuk meraih cita-cita. Lebih dari itu, pendidikan menjadi cara untuk meringankan beban keluarga.
Lahir di Bandung pada 1979 sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Wisnu tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, lulusan SMA, bekerja sebagai tenaga lapangan di Pupuk Kujang, Cikampek, Jawa Barat.
Dari sang ayah, Wisnu belajar tentang perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga. Pesan sederhana itu kemudian menjadi salah satu pendorong terbesar dalam hidupnya.
"Bapak bilang, untuk pendidikan, saya hanya bisa membiayai dua orang anak pertama. Maksudnya kalau saya jadi, saya bisa membantu meringankan, itu lebih baik. Jadi itu yang terus memotivasi saya," kata Wisnu, Kamis 10 September 2026.
Sebagai anak sulung, Wisnu memilih pendidikan yang tidak membebani keluarga. Saat SMA, ia masuk SMA Taruna Nusantara di Magelang dengan fasilitas pendidikan yang meringankan biaya keluarga.
"Waktu SMA saya juga harus pilih sekolah yang gratis, supaya adik-adik saya bisa sekolah," ujarnya.
Setelah lulus, Wisnu melanjutkan S1 Akuntansi di Universitas Indonesia pada 1998, kemudian S2 Akuntansi di Erasmus University Rotterdam, Belanda.
Dari Angka ke Aset Negara
Karier Wisnu di industri hulu migas dimulai pada 2003 ketika bergabung dengan BP Migas. Dari bidang akuntansi, perbendaharaan dan audit, perjalanan kariernya beberapa tahun kemudian, membawanya pada persoalan aset tanah hulu migas.
Saat itu, pencatatan aset masih menghadapi banyak persoalan. Industri hulu migas membutuhkan tanah untuk pengeboran, jalur pipa dan berbagai fasilitas lainnya. Namun, pencatatannya belum tertata dengan baik.
Ada tanah yang baru memiliki bukti pembebasan, kuitansi, sertifikat yang belum selesai, hingga sertifikat atas nama perorangan atau perusahaan.

Kondisi tersebut kemudian menjadi temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, terkait mismanagement aset hulu migas senilai belasan triliun rupiah.
Wisnu yang ketika itu menjabat Kepala Audit Keuangan kemudian diminta Deputi saat itu untuk membantu membenahi persoalan aset tanah.
Tantangannya tidak sederhana. Data aset berasal dari berbagai periode, termasuk yang memiliki riwayat sejak era kolonial, era 1960-an hingga 2013. Pencatatan antara lembaga terkait juga tidak sinkron.
Namun, Wisnu memilih tidak memulai pekerjaan itu dengan mencari siapa yang harus disalahkan.
"Saya bilang kita tidak mencari siapa yang benar atau yang salah. Karena kalau kita mencari siapa yang salah, ini tidak akan selesai," katanya.
Tiga Tahun Merapikan Jejak Aset
Wisnu kemudian mendorong Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan untuk membongkar kembali pencatatan lama dan menatanya sesuai kondisi sebenarnya.
Gagasan itu diwujudkan melalui kegiatan Inventarisasi dan Penilaian (IP) Barang Milik Negara, khususnya aset tanah hulu migas.
Inventarisasi dilakukan untuk memastikan kondisi fisik aset, mulai dari batas tanah, sertifikat dan dokumen lainnya. Sementara penilaian dilakukan untuk memastikan nilai aset, baik berdasarkan nilai perolehan maupun nilai pasar.
"Itu semuanya didata ulang, harus benar," ujarnya.
Proses tersebut melibatkan KKS dan berbagai instansi terkait di seluruh Indonesia. Pencatatan yang sebelumnya tidak sinkron diperiksa dan ditata kembali berdasarkan kondisi aset yang sebenarnya.
Bagi Wisnu, proses itu seperti membongkar kembali sebuah susunan untuk kemudian menatanya sesuai kondisi yang seharusnya.
"Ibarat main lego, dibongkar lalu ditata lagi, itu seharusnya seperti apa," kata Wisnu.

Kegiatan tersebut berlangsung sekitar tiga tahun. Aset tanah BMN sektor hulu migas dari berbagai periode, termasuk yang memiliki riwayat sejak zaman Belanda hingga 2013, diperiksa dan ditata kembali.
Pekerjaan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan karier Wisnu sebelum kemudian dipercaya sebagai Manager Manajemen Aset.
Hasilnya, pencatatan Barang Milik Negara berupa tanah pada sektor hulu migas yang sebelumnya bermasalah berhasil dibenahi.
"Kalau sekarang ditanya aset BMN tanah hulu migas, sudah rapi. Itu salah satu prestasi yang bisa saya bagikan," ujar Wisnu.
Ketika Pendidikan Menjadi Jalan Pengabdian
Pencapaian itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Wisnu. Dari seorang anak keluarga sederhana yang memilih sekolah agar tidak membebani orang tua, ia kemudian dipercaya ikut menyelesaikan persoalan aset negara dalam skala nasional.
Kini, sebagai Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi, pekerjaannya tidak lagi hanya berkutat dengan angka. Ia berhadapan dengan pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan.
Namun, di balik perjalanan panjang itu, keberhasilannya tetap ia kembalikan kepada doa dan perjuangan orang tua.
"Ya, syukur alhamdulillah, berkat doa orang tua bisa terus berlanjut sampai sekarang," ucap Wisnu.
Pesan sang ayah puluhan tahun lalu akhirnya menemukan maknanya sendiri. Pendidikan yang ditempuh agar tidak menambah beban keluarga membawanya pada perjalanan panjang, hingga ikut membenahi aset hulu migas Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....