Guru SMP Long Kuling Andalkan Fasilitas Seadanya untuk Mengajar
- 31 Jul 2026 18:07 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Mahakam Ulu – Pagi di SMP Long Kuling, Kampung Long Kuling, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, tidak selalu dimulai dengan dentang bel atau deretan siswa yang datang bersamaan. Ada anak-anak yang baru menginjak halaman sekolah ketika jarum jam mendekati pukul 08.00 Wita. Sepatu mereka dipenuhi lumpur setelah menempuh jalan licin dari kampung menuju sekolah.
Di ruang kelas sederhana itu, papan tulis yang mulai berlubang masih menjadi saksi proses belajar mengajar.
Pintu dan jendela yang rusak dibiarkan bertahan menjalankan fungsinya. Ketika spidol habis, guru harus menunggu kiriman yang belum tentu datang tepat waktu karena jalur distribusi menuju wilayah perbatasan kerap terhambat.
Namun, keterbatasan itu tidak pernah membuat proses belajar berhenti.
Guru ASN SMP Long Kuling, Asni, mengatakan tantangan mengajar di wilayah perbatasan tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga akses logistik yang memengaruhi kebutuhan dasar pembelajaran. "Kondisi di wilayah perbatasan saat ini masih sangat memprihatinkan. Saat musim kemarau, harga berbagai kebutuhan semakin mahal. Peralatan pembelajaran seperti spidol, buku, dan perlengkapan lainnya juga sulit didapat karena distribusinya terkendala," katanya, Jumat 31 Juli 2026.
Bagi para guru, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Mereka memanfaatkan apa pun yang tersedia agar kegiatan belajar tetap berlangsung.
Bahkan kebutuhan sederhana seperti spidol harus menunggu pengiriman yang memerlukan waktu lebih lama dibandingkan sekolah-sekolah di perkotaan.
Selain persoalan logistik, perjalanan menuju sekolah juga menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi lintasan berlumpur yang sulit dilalui.
Tidak sedikit siswa yang harus datang terlambat karena medan yang berat, terutama mereka yang berasal dari Delang Kerohong.
Di tengah kondisi tersebut, ruang belajar juga belum sepenuhnya mendukung proses pendidikan.
Sebagian papan tulis sudah rusak, pintu dan jendela kelas tidak lagi layak, sementara buku pelajaran belum tersedia secara lengkap.
Harapan untuk menikmati akses internet pun masih sebatas penantian setelah rencana pemasangan Starlink belum juga terealisasi. "Kami tetap semangat mengajar dengan memanfaatkan bahan dan peralatan yang ada. Sampai sekarang kebutuhan seperti spidol masih dalam proses pengiriman karena distribusinya memang sulit. Tapi pembelajaran tetap harus berjalan," ucapnya.
Keterbatasan listrik dan internet membuat guru tidak dapat memanfaatkan media pembelajaran digital sebagaimana sekolah lain. Tidak ada presentasi melalui proyektor atau materi daring yang dapat diakses kapan saja. Sebagian besar pelajaran masih berlangsung dengan metode konvensional, mengandalkan papan tulis dan catatan di buku.
Namun, justru di ruang kelas yang sederhana itu, semangat belajar para siswa tumbuh dengan cara yang paling sederhana pula. Mereka tetap datang, duduk di bangku sekolah, mendengarkan guru, dan mencatat setiap pelajaran yang diberikan.
Menurutnya, semangat anak-anak itulah yang membuat para guru terus bertahan mengajar di wilayah perbatasan. "Walaupun berada dalam kondisi yang serba terbatas, para siswa tetap memiliki semangat belajar yang tinggi," ujarnya.
Di perbatasan Mahakam Ulu, pendidikan masih berhadapan dengan jalan yang panjang, fasilitas yang minim, dan akses yang terbatas. Namun, di balik papan tulis yang mulai usang dan ruang kelas yang sederhana, masih ada harapan yang terus dijaga, oleh guru yang tetap mengajar meski kekurangan, dan oleh anak-anak yang percaya bahwa sekolah adalah jalan menuju masa depan. (*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....