Warga Long Pahangai Gelar Tradisi Lemaliq Ataq Sambut Panen Padi
- 13 Feb 2026 15:14 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Warga Kampung Long Pahangai, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, kembali melaksanakan tradisi Lemaliq Ataq sebagai bagian dari rangkaian menyambut panen padi. Tradisi ini merupakan kearifan lokal masyarakat Dayak di wilayah hulu Sungai Mahakam yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Lemaliq Ataq dapat dilakukan secara berkelompok atau dalam lingkup keluarga. Namun pada umumnya, pelaksanaannya tetap mengikuti kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama di kampung sebagai ungkapan rasa syukur menjelang pesta panen.
Tradisi ini dilakukan ketika padi berada pada kondisi antara mentah dan matang, bukan padi yang sudah benar-benar masak. Padi dipilih secara khusus agar saat ditumbuk nantinya dapat menghasilkan emping yang baik. Jika padi terlalu masak, bijinya akan hancur dan tidak bisa diolah menjadi emping.
Pengambilan padi dilakukan secara hati-hati di ladang, bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil alam, tetapi juga untuk memastikan padi yang diambil sesuai untuk diolah. Ketelitian ini menjadi bagian penting dalam keseluruhan proses Lemaliq Ataq.
Setelah padi diambil, proses dilanjutkan dengan perontokan. Terdapat dua metode perontokan yang digunakan masyarakat. Pertama, mihik, yaitu merontokkan padi menggunakan satu kaki, biasanya untuk padi yang sudah masak.
Kedua, keheq, yakni perontokan padi mentah menggunakan tangan dengan alat bantu. Dahulu digunakan biji asan putar, sementara kini dapat digantikan dengan benda lain yang bisa digenggam, seperti tutup gelas. Padi mentah tidak bisa dirontokkan menggunakan kaki sehingga harus menggunakan alat bantu tersebut.
Padi yang telah dirontokkan kemudian digoreng hingga matang sempurna tanpa menggunakan minyak maupun air. Proses penggorengan ini harus dilakukan dengan benar, sebab jika tidak matang sempurna, emping yang dihasilkan akan lengket dengan dedaknya saat ditumbuk.
Setelah melalui proses penggorengan, padi kemudian ditumbuk oleh para ibu secara bergotong royong menggunakan lesung panjang dan alu.
Suasana kebersamaan sangat terasa dalam tahap ini, di mana warga saling membantu sambil menjaga tradisi yang telah ada sejak lama.
Hasil tumbukan selanjutnya dibersihkan menggunakan tampih untuk memisahkan emping dari dedaknya. Setelah bersih, emping kemudian dicampur atau diaduk dengan bubu kelapa, sebelum akhirnya siap disajikan.
Lunau, warga Kampung Long Pahangai, mengatakan Lemaliq Ataq bukan sekadar kegiatan mengolah makanan, tetapi memiliki makna budaya yang mendalam.
“Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang kami. Lemaliq Ataq menjadi tanda bahwa kami siap menyambut panen padi,” kata Lunau saat dihubungi melalui telepon, pada Jumat, 13 Februari 2026.
Ia menambahkan, nilai utama dari tradisi ini terletak pada kebersamaan yang terbangun dalam setiap prosesnya.
“Meski bisa dilakukan per keluarga, pelaksanaannya tetap mengikuti kegiatan bersama di kampung. Semua dilakukan bergotong royong, dari mengambil padi sampai emping siap dimakan,” ujarnya.
Menurut Lunau, masyarakat Long Pahangai berkomitmen untuk terus melestarikan Lemaliq Ataq agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kami ingin anak cucu tetap mengenal tradisi ini sebagai bagian dari identitas Dayak di Mahakam Ulu,” ucapnya.
Tradisi Lemaliq Ataq pun menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat hulu Mahakam masih terjaga dan terus hidup di tengah perkembangan zaman.