Buku, Durian dan Mimpi Anak Kampung

  • 18 Jan 2026 07:17 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Di bawah rimbun pohon durian Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), dua bocah tampak melangkah ceria di sela dedaunan kering.

Damianus Mondi (kelas 5) dan Rafli Andreas (kelas 5) baru saja membantu orang tua mereka menjaga durian. Musim durian memang membawa kesibukan tersendiri bagi keluarga-keluarga di kampung ini.

Selama hampir tiga pekan terakhir, kebun menjadi ruang hidup yang ramai. Bagi Damianus dan Rafli, kebun bukan sekadar tempat orang tua bekerja, tetapi juga tempat mereka belajar tentang arti membantu dan bertanggung jawab sejak usia dini.

Setiap kali pulang sekolah, mereka mengganti pakaian, lalu menyusul orang tua ke kebun. Tak ada paksaan. Semua dilakukan dengan kesadaran dan kebiasaan yang sudah tertanam sejak kecil.

“Kalau sudah pulang sekolah, kami ganti baju dulu, baru ke kebun,” ujar Damianus Mondi, Sabtu 17 Januari 2026.

Di sela menjaga durian, buku pelajaran tetap mereka bawa. Saat kebun terasa lengang, anak-anak itu duduk di lebo kecil yang di bagun di bawah pohon durian, membuka buku tulis, dan mengulang pelajaran.

Suara daun dan angin menjadi teman belajar yang setia, menggantikan hiruk pikuk ruang kelas.

“Kami belajar di sini juga. Sambil jaga durian jatuh, buka buku sebentar,” katanya.

Lembo kecil, tempat Damianus dan Rafli bersama orang tua mereka beristirahat sambil belajar menjaga durian jatuh. (Foto: RRI/MCJ)

Bagi mereka, belajar di kebun terasa menyenangkan karena bisa dilakukan bersama teman-temannya. Dari menjaga durian, ia juga mengaku, mendapat tambahan uang jajan. Nominalnya kecil, namun penuh makna.

“Biasanya dikasih sangu dua ribu. Tapi karena ikut jaga durian, sama mamak ditambah jadi lima ribu,” ucap Damianus.

Dalam kesempatan yang sama, Rafli Andreas menambahkan, ikut orang tua ke kebun bukan hanya dilakukan saat musim durian. Di hari-hari biasa, mereka pun kerap membantu berkebun.

“Kami memang sering ikut orang tua. Sudah biasa,” katanya.

Bagi orang tua mereka, kebun adalah sekolah kehidupan. Di sanalah anak-anak dikenalkan pada kerja keras, kesabaran, dan kebersamaan, tanpa harus meninggalkan bangku pendidikan formal yang tetap mereka jalani.

Di bawah pohon durian itu pula, mimpi-mimpi kecil tumbuh perlahan.

“Kami mau tetap sekolah dan punya cita-cita," ucap Rafli.

Dari Kampung Intu Lingau, buku, durian dan harapan berjalan berdampingan, menumbuhkan keyakinan bahwa masa depan bisa lahir dari kesederhanaan.

Rekomendasi Berita