Pria Dayak Bahau Jaga Tradisi Anjat Turun-Temurun

  • 16 Jan 2026 14:03 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Mahakam Ulu – Tradisi pembuatan anjat khas Dayak Bahau masih terus hidup di pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu. Di Kecamatan Long Pahangai, seorang pria bernama Jaang tetap menekuni anyaman anjat secara manual di sela kesibukannya bekerja sebagai operator alat berat.

Pembuatan anjat selama ini kerap identik dengan kaum perempuan. Namun dalam praktiknya, keterampilan tersebut juga dijalankan oleh laki-laki, termasuk Jaang, yang mengerjakannya dengan penuh ketelatenan dan kesabaran.

Jaang mengucap, kegiatan menganyam anjat ia lakukan untuk mengisi waktu luang bersama keluarga. Aktivitas tersebut biasanya dikerjakan di rumah setelah menyelesaikan pekerjaan utama.

“Ini saya kerjakan untuk mengisi waktu luang saja, biasanya bersama keluarga di rumah,” ucap Jaang, Kamis malam (14/1/2026).

Ia menuturkan, menganyam anjat bukanlah sumber penghasilan utama. Sehari-hari, Jaang bekerja sebagai operator alat berat, namun keterampilan menganyam tetap ia pertahankan sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.

“Kalau pekerjaan utama saya operator alat berat. Menganyam anjat ini di luar rutinitas kerja,” ujar Jaang.

Proses pembuatan anjat dilakukan secara manual dengan menyusun satu per satu benang anyaman hingga membentuk pola khas Dayak Bahau. Setiap tahap membutuhkan ketelitian agar hasilnya kuat, rapi, dan memiliki nilai estetika.

Menurut Jaang, keterampilan menganyam ia pelajari sejak lama dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Long Pahangai.

Anjat memiliki fungsi penting bagi masyarakat Dayak, tidak hanya sebagai tas, tetapi juga digunakan untuk membawa hasil hutan, perlengkapan sehari-hari, hingga keperluan adat. Selain fungsi praktis, anjat juga mencerminkan identitas budaya Dayak Bahau.

Di tengah arus modernisasi, Jaang berharap tradisi menganyam anjat tetap dijaga dan dilestarikan. Ia menilai, tanpa upaya menjaga, keterampilan tersebut berpotensi hilang tergerus perkembangan zaman.

“Kalau tidak kita jaga, lama-lama bisa hilang. Padahal ini identitas orang Dayak Bahau,” ucapnya.

Bagi Jaang, menganyam anjat bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Aktivitas itu menjadi wujud kecintaan terhadap budaya leluhur agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rekomendasi Berita