Natal Tanpa Pulang, Tahun Baru di Tanah Rantau
- 01 Jan 2026 07:44 WIB
- Sendawar
KBRN, Sendawar: Di tengah semarak perayaan Natal dan dentuman kembang api menyambut tahun baru, tidak semua orang merasakan hangatnya kebersamaan keluarga. Di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Jantro Naibaho, seorang perantau asal Sumatra, menjalani akhir tahun dengan perasaan yang bercampur antara rindu dan keprihatinan.
Tahun ini, Jantro tak bisa pulang kampung. Bukan karena keengganan, melainkan karena keadaan yang belum memungkinkan. Di kampung halamannya, keluarga yang ia tinggalkan baru saja terdampak musibah banjir. Kondisi tersebut membuat momen Natal dan pergantian tahun terasa jauh lebih berat untuk dilalui dari kejauhan.
“Sedih pasti ada. Apalagi tahun ini tidak bisa kumpul bareng keluarga. Di kampung juga habis kena banjir,” kata Jantro, Kamis (1/1/2026) pagi.
Sebagai perantau di Kubar, akhir tahun biasanya menjadi waktu paling dinanti untuk kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga besar. Namun tahun ini, Jantro memilih bertahan di tempatnya mencari nafkah. Rasa rindu pun harus ia simpan, sembari terus memantau kabar keluarga dari jauh.
Di tengah keterbatasan itu, teknologi menjadi penguat. Telepon selular menjadi satu-satunya penghubung yang mampu mendekatkan jarak. Lewat panggilan dan pesan singkat, Jantro dan keluarganya saling bertukar kabar, bersalam sapa, serta mengirimkan doa terbaik menyambut tahun yang baru.
“Meski jauh, kami masih bisa jalin komunikasi lewat telepon. Saling sapa dan saling mendoakan untuk tahun baru ini,” ujarnya.
Malam pergantian tahun di Kubar pun ia lalui dengan sederhana. Tidak ada perayaan besar, hanya refleksi diri dan doa dalam keheningan.
Bagi Jantro, tahun baru bukan tentang pesta, melainkan tentang harapan agar keluarga di kampung segera pulih dari musibah dan kehidupan ke depan menjadi lebih baik.
Ia percaya, kebersamaan tidak selalu harus dirayakan dengan kehadiran fisik. Selama doa dan perhatian tetap terhubung, keluarga akan selalu terasa dekat, meski terpisah jarak dan waktu.
“Semoga tahun baru ini membawa kebaikan. Keluarga di kampung diberi kesehatan, dan kami semua bisa berkumpul lagi nanti,” ucapnya.
Kisah Jantro menjadi gambaran banyak perantau di Kutai Barat yang merayakan Natal dan tahun baru dengan cara berbeda. Di balik sunyi dan rindu, mereka tetap menyalakan harapan, bahwa suatu saat, momen-momen istimewa itu akan kembali dirayakan bersama keluarga tercinta di rumah.