Nikodemus Yopinus, Pengukir Muda Penjaga Warisan Leluhur
- 11 Okt 2025 18:26 WIB
- Sendawar
KBRN, Sendawar : Di sebuah rumah sederhana di Kampung Linggang Mencelew, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), tangan Nikodemus Yopinus tampak cekatan mengukir gagang mandau.
Setiap goresan parang kecilnya menghidupkan motif Dayak yang sarat makna. Bagi pemuda berusia 25 tahun ini, mengukir bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk menjaga warisan leluhur agar tidak punah.
Kecintaannya pada seni ukir tumbuh sejak kecil. Saat teman sebayanya sibuk bermain, Nikodemus justru betah duduk berjam-jam di depan kertas, menggambar pola-pola yang ia lihat dari hasil karya pamannya. Tahun 2008 menjadi awal langkahnya, ketika ia masih duduk di bangku kelas IV SD.
“Waktu itu saya cuma menggambar di kertas, belum berani mengukir langsung,” ujarnya.
Baru sembilan tahun kemudian, saat duduk di kelas II SMK, keberaniannya tumbuh. Ia mulai memahat kayu dan mencoba mengukir gagang mandau pertamanya.
Sosok yang paling berperan dalam perjalanan Nikodemus adalah pamannya, Budi Wawan. Dari sang paman, ia belajar cara memegang pisau ukir, mengenal jenis kayu, hingga memahami filosofi di balik setiap bentuk motif.
“Dari paman, saya belajar bukan hanya keterampilan, tapi juga nilai-nilai yang harus dijaga dalam setiap ukiran,” ujarnya.
Semangat itu menuntunnya untuk terus melanjutkan tradisi keluarga sebagai pengukir yang berakar pada budaya Dayak. Nikodemus merupakan anak ketujuh dari pasangan Arkadius Frans dan Chaterina Alay.
Ia tumbuh dalam keluarga besar yang sederhana, bersama tiga kakak dan tiga adiknya: Heri, Toni, Lala, Nina, Andi, dan Christy. Meski hidup di kampung kecil, semangatnya besar.
Kini, dengan pengalaman hampir dua dekade, ia sudah menghasilkan berbagai karya, mulai dari gagang mandau bernilai Rp70 ribu hingga Rp100 ribu, tameng kayu ulin seharga Rp200 ribu, hingga ukiran dari kayu jati, jeruk, dan jambu yang mulai diminati kolektor lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....