Di Balik Gerobak Bakso, Tekad Perantau untuk Keluarga Tercinta
- 30 Sep 2025 10:40 WIB
- Sendawar
KBRN, Sendawar: Di balik riuh jalanan Barong Tongkok, Kutai Barat, sebuah gerobak sederhana terus setia menemani langkah Sarwandi. Dengan suara khasnya memanggil pembeli, pria asal Jawa Tengah itu menapaki perantauan dengan satu tujuan: menafkahi keluarga dari dagangan bakso gerobak.
Di Kalimantan, pedagang keliling seperti dirinya akrab disapa Pa Le. Ada Pa Le bakso, pentol, mi ayam, hingga es. Namun bagi Sarwandi, sapaan itu bukan sekadar panggilan, melainkan identitas perjuangan yang ia bawa ke tanah rantau.
Hampir setiap hari, ia menyusuri kompleks perumahan hingga kawasan sekitar Kantor Pemkab Kutai Barat. Namun, langkahnya tak selalu mulus. Teguran petugas keamanan kerap menghentikan laju gerobaknya. Ia harus pandai memilih waktu dan situasi agar bisa menjajakan dagangannya tanpa melanggar aturan.
“Namanya jualan, Mas. Kita cari pelanggan yang ramai. Kadang masuk area pemkab, tapi memang ada aturannya, jadi ya pernah kena tegur,” ucap Sarwandi, Selasa (30/9/2025).
Meski demikian, semangatnya tak pernah padam. Ia percaya rezeki selalu ada selama ada usaha. Ada hari di mana bakso dagangannya ludes, ada pula hari ketika hanya separuh yang terjual. Namun ia bersyukur, tak pernah sekalipun dagangannya benar-benar tak laku.
Dengan harga Rp15.000 per porsi, Sarwandi terus mendorong gerobaknya, menembus panas dan hujan, demi satu alasan: keluarga yang menunggu di rumah. “Selama masih bisa berusaha, saya yakin pasti ada jalan,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan.
Di balik mangkuk bakso hangat yang ia hidangkan, tersimpan kisah tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan seorang perantau yang memilih berdiri di atas keringatnya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....