Dari Ide Jadi Usaha Nyata, Bisnis Batako Lokal Kubar Raup Omzet Puluhan Juta

  • 21 Feb 2026 13:58 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Di tengah geliat pembangunan yang terus tumbuh di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), usaha percetakan batako CV Lesio Walo menjadi salah satu pelaku usaha lokal yang ikut merasakan denyut perkembangan sektor konstruksi.

Pemilik CV Lesio Walo, Yakobus Yamon, menuturkan usaha yang dirintisnya lebih dari satu tahun lalu berangkat dari pengamatannya terhadap perubahan pola pembangunan masyarakat di Kubar.

“Dulu masyarakat lebih banyak menggunakan kayu untuk membangun rumah atau bangunan lainnya. Sekarang sudah beralih ke bangunan beton. Saya melihat usaha konstruksi ini tidak ada matinya,” kata Yamon, Sabtu 21 Februari 2026.

Perubahan tersebut membuka peluang baru. Yamon menilai kebutuhan batako di Kubar terus meningkat, sementara jumlah produsen yang ada belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan pasar secara menyeluruh.

Buka Lapangan Kerja Bagi Warga Sekitar

Saat ini sudah ada sekitar 8 orang Karyawan yang bekerja di CV Lesio Walo. (foto.RRI/MCJ)

Berangkat dari situ, ia memberanikan diri membuka usaha percetakan batako di wilayah Kampung Rejo Basuki, Kecamatan Barong Tongkok. Menurutnya, lokasi tersebut cukup strategis untuk menjangkau kebutuhan pembangunan di sekitar ibu kota kabupaten maupun wilayah sekitarnya.

Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu mulus. Yamon mengakui, selama setahun terakhir dirinya menghadapi berbagai tantangan, terutama dampak perlambatan ekonomi pascapandemi Covid-19.

“Namanya dunia usaha, pasti ada tantangan. Kondisi ekonomi masyarakat memang belum sepenuhnya pulih. Tapi puji Tuhan, kami masih bisa bertahan,” ujarnya.

Yamon bersyukur usaha yang dijalankannya tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi keluarga, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, khususnya mereka yang memiliki keterampilan di bidang produksi material bangunan.

Omzet Tembus Puluhan Juta Per Bulan

Omzet Usaha Batako di Kubar Capai Puluhan Juta Per Bulan. (foto.RRI/MCJ)

Dari sisi pendapatan, Yamon menyebut omzet usaha batakonya tidak bersifat tetap karena sangat bergantung pada jumlah pesanan. Dalam kondisi normal, omzet bersih per bulan berkisar antara Rp30 juta hingga Rp40 juta setelah dikurangi biaya operasional dan gaji karyawan.

“Kalau dihitung kotor, bisa sampai Rp60 juta per bulan. Apalagi saat kegiatan pembangunan pemerintah sedang ramai, pesanan bisa membludak dan kami bisa kewalahan,” ucapnya.

Untuk harga, CV Lesio Walo mematok Rp2.900 per buah batako untuk wilayah ibu kota Kabupaten Kubar, termasuk ongkos kirim. Sementara untuk pengiriman di luar wilayah tersebut, biaya disesuaikan dengan jarak tempuh karena mempertimbangkan konsumsi bahan bakar dan upah sopir.

Yamon berharap, sektor konstruksi di Kubar terus berkembang sehingga usaha lokal seperti miliknya dapat tumbuh bersama pembangunan daerah, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Rekomendasi Berita