HPN 2026, PWI Kaltim: Teknologi Masih Jadi Tantangan Dunia Jurnalistik
- 09 Feb 2026 19:46 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur (Kaltim), Abdurrahman Amin, menegaskan, dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, kemajuan teknologi masih menjadi tantangan utama dunia jurnalistik, sebagaimana yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun demikian, Rahman menilai tantangan kali ini jauh lebih kompleks. Pasalnya, teknologi tidak lagi sekadar membantu pekerjaan manusia, khususnya pers, melainkan telah berkembang hingga berpotensi menggantikan peran jurnalistik itu sendiri.
Karena itu, dalam peringatan HPN tahun ini PWI Kaltim, terus menyuarakan pentingnya menempatkan teknologi sebagai alat bantu jurnalis, agar dapat menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan dapat diterima dengan baik oleh pembaca.
“Itu yang sering kita suarakan, bagaimana teknologi itu membantu peran jurnalis agar bisa menghasilkan berita yang lebih presisi, berita yang lebih bisa di terima dan benar-benar memberikan Tingkat akurasi serta edukasi kepada pembaca atau Masyarakat,” kata Rahman, Senin 9 Februari 2026.
Ia mencontohkan penggunaan kecerdasan buatan seperti Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, kehadiran teknologi ini tidak hanya memengaruhi industri media, tetapi hampir seluruh sektor pekerjaan, termasuk dunia pendidikan, yang turut mengalami distorsi dan perubahan besar akibat pemanfaatan AI.
Meski demikian, Rahman menegaskan, dalam dunia jurnalistik telah ada ketentuan yang menjadi dasar penggunaan kecerdasan buatan, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.
Pada Bab II, pasal 2 diantaranya menyebut, Karya jurnalistik yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan berpedoman kepada Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Kemudian Penggunaan kecerdasan buatan untuk karya jurnalistik harus ada kontrol manusia dari awal hingga akhir. Serta Perusahaan pers bertanggung jawab atas karya jurnalistik yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan.
“Pedoman inilah yang benar-benar diharapkan bisa diterapkan oleh seorang jurnalis, supaya Masyarakat bisa membedakan mana produk yang di hasilkan AI dan mana yang bukan oleh AI,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan kecerdasan buatan dalam jurnalistik ditugaskan semata-mata untuk membantu, bukan menggantikan peran jurnalis. Hal ini menjadi penting karena AI tidak dapat menggantikan pekerjaan seorang wartawan.
“Peran krusial seorang reporter, wartawan atau seorang jurnalis adalah harus ke lapangan. Itu juga bukan hanya untuk memotret peristiwa yang kemudian disampaikan ke masyarakat, tapi harus bisa menangkap emosi Masyarakat, agar bisa menghasilkan karya jurnalistik yang jernih.
Dari karya jurnalistik yang jernih tersebut, lanjut Rahman, para pemangku kebijakan maupun masyarakat luas dapat merasakan apa yang selama ini dialami masyarakat yang termarjinalkan dan membutuhkan perhatian.
“Itu yang tidak bisa di lakukan oleh AI. Artinya, AI hanya sebagai support system, bukan sebagai pengganti peran seorang jurnalis,” ucap Abdurahman Amin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....