Pasokan BBM Subsidi Tersendat, Angkutan Sungai Mahakam Terhenti Sementara

  • 27 Jan 2026 12:12 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar - Aktivitas angkutan sungai rute Samarinda menuju Kutai Barat (Kubar) hingga Mahakam Ulu (Mahulu) terpaksa terhenti sementara akibat belum tersalurnya Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi kapal.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama tiga hari terakhir dan dikhawatirkan berdampak pada kelancaran mobilitas penumpang serta distribusi kebutuhan pokok Masyarakat, baik di Kubar maupun Mahulu.

Bagian Administrasi Kapal Motor (KM) Al-Madinah di Pelabuhan Melak, Kecamatan Melak, Badrun, mengatakan berhentinya operasional kapal bukan merupakan aksi mogok. Menurutnya, hampir seluruh kapal tidak beroperasi, murni karena ketiadaan pasokan BBM bersubsidi.

“Ini bukan mogok, kami tidak ada niat berhenti beroperasi. Tapi karena BBM subsidi tidak ada, otomatis kami tidak bisa jalan,” kata Badrun, Selasa 27 Januari 2026.

Ia menjelaskan, selama ini BBM bersubsidi diperoleh melalui koperasi Orgamu di Samarinda dengan harga sekitar Rp7 ribu per liter. Dengan harga tersebut, ongkos angkutan penumpang masih bisa ditekan, dengan tarif tertinggi sekitar Rp180 ribu per orang.

Namun, jika kapal terpaksa membeli BBM non-subsidi di luar koperasi dengan harga sekitar Rp12 ribu per liter, maka biaya operasional akan melonjak dan berimbas langsung pada kenaikan tarif angkutan barang maupun penumpang.

“Kalau ongkos naik, kasihan masyarakat karena jadi beban. Kalau masyarakat mengeluh, kami sebagai angkutan umum jalur sungai juga bisa mati,” ujarnya.

Menurut Badrun, persoalan BBM ini sudah dirasakan sejak 25 Januari 2026. Saat ini masih ada beberapa kapal yang berlayar menuju Samarinda, namun tidak ada kapal yang berangkat ke arah hulu.

“Yang mudik ke Kutai Barat dan Mahakam Ulu, tidak ada sama sekali. Ini yang kami khawatirkan, pasokan sembako ke wilayah Kubar dan Mahulu bisa terancam macet,” katanya.

Kepala UPTD Pelabuhan Melak, Yunus Parwita. (dok.RRI)

Sementara itu, Kepala UPTD Pelabuhan Melak, Yunus Parwita, membenarkan adanya penurunan aktivitas kapal akibat persoalan BBM bersubsidi. Namun, ia menyebut pihaknya belum mengetahui secara pasti kendala utama dalam distribusi BBM tersebut.

“Masalah ini koordinasinya langsung di tingkat provinsi. Kami di pelabuhan sifatnya hanya pengawasan aktivitas kapal dan penumpang,” jelas Yunus.

Ia menambahkan, aktivitas pengawasan di Pelabuhan Melak tetap berjalan seperti biasa. Kapal yang bergerak menuju Samarinda masih ada, namun kapal yang berangkat ke arah hulu hingga kini belum terlihat.

“Sampai sekarang belum ada informasi kapan masalah BBM ini bisa teratasi. Kami minta masyarakat bersabar dan menunggu hasil koordinasi dari pihak provinsi,” ucap Yunus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....