Lima Titik Karhutla Bersamaan, KPH Mook Manaar Bulatn Kewalahan Personel

  • 30 Agt 2026 14:02 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) menghadapi keterbatasan personel dan sarana saat menangani kebakaran hutan dan lahan di Kutai Barat.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika kebakaran muncul bersamaan di sejumlah lokasi yang berjauhan. Petugas harus membagi kekuatan untuk menjangkau setiap titik dengan jumlah anggota dan kendaraan yang terbatas.

Kepala KPHP Mook Manoor Bulatn, Enggar Setiabudi, mengatakan petugas pernah menghadapi hingga lima kejadian kebakaran dalam waktu bersamaan.

Lokasi kebakaran antara lain Muara Nyahing, Empas, Sri Mulya, hingga Muara Pahu. Jarak antarlokasi membuat pengerahan personel dan kendaraan menjadi tidak mudah dilakukan secara bersamaan.

“Personel kami memang terbatas. Ketika kebakaran terjadi di beberapa lokasi sekaligus, kami tidak mungkin mengerahkan semua kekuatan ke setiap titik,” ujar Enggar, Minggu 30 Agustus 2026.

Menurut Enggar, setiap KPH rata-rata memiliki dua brigade pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Setiap brigade beranggotakan sekitar 15 personel.

Namun, jumlah tersebut tidak seluruhnya dapat dikerahkan dalam satu waktu. Satu kendaraan biasanya membawa sekitar enam personel, sehingga kemampuan menjangkau banyak titik kebakaran menjadi terbatas.

“Jarak lokasinya cukup jauh. Dengan kendaraan dan sarana yang tersedia, kami harus membagi personel agar penanganan tetap bisa dilakukan,” ucap Enggar.

Kondisi tersebut membuat KPH perlu melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA). Warga yang berada lebih dekat dengan lokasi kebakaran dapat membantu petugas melakukan penanganan awal.

Pelibatan masyarakat juga menjadi penting ketika petugas KPH harus berpindah dari satu titik kebakaran ke lokasi lainnya. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat pengendalian api sebelum kebakaran meluas.

“Dengan sumber daya yang seadanya, kami tetap berusaha turun. Tetapi kalau ada lima kebakaran sekaligus, tentu kami harus membagi kekuatan,” ujar Enggar.

Selain personel, sarana pendukung menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran. Petugas membutuhkan kendaraan dan perlengkapan untuk menjangkau lokasi sekaligus menjaga keselamatan selama melakukan pemadaman.

Enggar menegaskan petugas tidak dapat bekerja hanya mengandalkan tenaga manusia. Kondisi kebakaran di lapangan memiliki risiko tinggi sehingga perlengkapan dan sarana pendukung harus menjadi bagian dari setiap pengerahan.

“Kami tidak mungkin datang ke lokasi hanya dengan mengandalkan tenaga. Peralatan dan kendaraan sangat diperlukan karena keselamatan petugas juga harus diperhatikan,” katanya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, KPH memastikan penanganan terhadap titik kebakaran tetap dilakukan sesuai kemampuan yang tersedia. Koordinasi dengan MPA dan unsur terkait terus dilakukan untuk memperkuat respons di lapangan.

Enggar berharap dukungan dan koordinasi antarpihak semakin kuat selama kondisi rawan kebakaran berlangsung. Menurutnya, penanganan bersama diperlukan agar keterbatasan personel dan sarana tidak membuat api semakin sulit dikendalikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....