Ongkos Ketinting Jutaan Rupiah Bebani Distribusi Logistik Mahulu

  • 28 Agt 2026 08:21 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Mahulu - Tarif angkutan menggunakan perahu ketinting (perahu kecil bermesin) dari Long Lunuk, Kecamatan Long Pahangai menuju sejumlah wilayah di Kabupaten Mahakam Ulu mencapai jutaan rupiah dalam sekali perjalanan. Tingginya biaya angkutan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga kebutuhan pokok, terutama di wilayah hulu yang masih mengandalkan transportasi sungai.

Untuk rute Long Lunuk menuju Kampung Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, tarif angkutan mencapai Rp2,75 juta per perahu, di luar kebutuhan bahan bakar minyak sebanyak 25 liter. Biaya tersebut harus ditanggung dalam setiap perjalanan distribusi barang menuju wilayah tujuan.

Sementara itu, tarif rute Long Lunuk menuju Noha Silat Kecamatan Long Apari, mencapai Rp4,25 juta per perjalanan dan masih ditambah kebutuhan BBM sebanyak 45 liter. Adapun rute Long Lunuk menuju Kampung Long Apari dan Noha Tivab memiliki tarif lebih tinggi, yakni mencapai Rp5,55 juta per perahu dengan tambahan kebutuhan BBM sebanyak 65 liter.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya beban biaya transportasi sungai yang harus ditanggung masyarakat dan pelaku distribusi untuk memenuhi kebutuhan di wilayah hulu Mahakam. Terlebih, kondisi kemarau dan surutnya Sungai Mahakam membuat distribusi melalui jalur air semakin menghadapi kendala.

Bupati Mahakam Ulu, Angela Idang Belawan berharap pembukaan akses jalan darat menuju wilayah tersebut dapat menekan biaya angkutan sekaligus membantu mengendalikan harga kebutuhan pokok. Menurutnya, biaya distribusi melalui jalur sungai saat ini lebih tinggi dibandingkan apabila barang dapat diangkut melalui jalur darat.

“Harapannya, dengan terbukanya jalan darat, harga bisa lebih ditekan karena ongkos angkut lewat darat lebih murah dibandingkan melalui sungai,” kata Angela, Jumat, 28 Agustus 2026.

Pemkab Mahulu selanjutnya akan membawa kebutuhan peningkatan akses tersebut kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah pusat. Upaya tersebut dilakukan agar pembangunan infrastruktur menuju wilayah hulu dapat terus dilanjutkan dan konektivitas antarkawasan semakin kuat.

Selain memperhatikan kebutuhan pangan dan infrastruktur, Pemkab Mahulu juga akan memetakan kelompok masyarakat yang dinilai rentan selama kondisi kemarau dan gangguan distribusi. Obat-obatan serta kebutuhan bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan masyarakat yang sedang sakit menjadi perhatian khusus agar kebutuhan dasar kelompok tersebut tetap terpenuhi.

“Kita juga harus melihat kebutuhan masyarakat yang rentan, termasuk obat-obatan dan kebutuhan bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang sedang sakit. Jangan sampai kondisi distribusi yang terganggu membuat kebutuhan mereka tidak terpenuhi,” ujar Angela.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....