Harga Kebutuhan Pokok Melonjak, Warga Long Pahangai Harapkan Solusi Pemerintah

  • 06 Agt 2026 16:53 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Mahulu - Musim kemarau yang menyebabkan surutnya Sungai Mahakam selama sekitar dua pekan, berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).

Kondisi tersebut menghambat transportasi sungai, mengganggu distribusi logistik, serta memicu lonjakan harga bahan kebutuhan pokok di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut.

Warga Long Pahangai, Margaretha Tubuq, saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Kamis 6 Agustus 2026, mengatakan, surutnya sungai membuat akses masyarakat menjadi sangat terbatas.

“Sudah sekitar dua minggu sungai surut. Akibat musim kemarau, akses ke mana-mana menjadi sulit, terlebih pasokan BBM juga dibatasi. Saat ini setiap kepala keluarga hanya diperbolehkan membeli lima liter BBM per hari,” kata Tubuq.

Ia mengungkapkan, dampak kemarau juga menyebabkan harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga beras ukuran 25 kg yang sebelumnya sekitar Rp470 ribu, kini mencapai Rp800 ribu. Sementara gas elpiji 3 kg, dijual sekitar Rp150 ribu dan gas 12 kg menembus lebih dari Rp500 ribu.

“Kalau BBM memang harganya sekitar Rp10 ribu per liter di SPBU, tetapi pembeliannya dibatasi hanya lima liter per hari,” ucapnya.

Menurut Tubuq, masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain tetap membeli kebutuhan pokok meskipun harganya melonjak. Selain itu, distribusi barang ke Long Pahangai juga ikut terganggu karena transportasi sungai tidak lagi dapat beroperasi secara normal.

“Biasanya long boat bisa mengangkut lima sampai enam ton barang sekali jalan. Sekarang long boat maupun speed boat, sudah tidak berani melintas karena sungai sangat dangkal dan risikonya tinggi. Kami hanya berharap akses jalan darat, sementara kondisinya juga belum memadai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dangkalnya sungai juga membahayakan keselamatan para pengemudi perahu. Menurutnya, jika dipaksakan melintas di jalur berarus deras atau riam, bagian kaki long boat berpotensi menghantam batu hingga patah dan menyebabkan perahu karam.

“Risiko kecelakaan sangat besar jika tetap beroperasi dalam kondisi sungai seperti sekarang,” kata Tubuq.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menjamin ketersediaan kebutuhan pokok di wilayah perbatasan. Memikirkan solusi, agar masyarakat di daerah perbatasan tetap bisa mendapatkan sembako, BBM, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya dengan harga yang normal seperti sebelumnya.

Ia menambahkan, apabila kemarau berlangsung lebih lama, masyarakat khawatir kesulitan akan semakin meningkat, mulai dari akses transportasi, distribusi hasil kebun, hingga pelayanan kesehatan.

“Kami berharap pemerintah tidak menganggap ini hanya sebagai persoalan kekeringan biasa, tetapi juga persoalan akses dan kebutuhan dasar masyarakat perbatasan. Kami ingin warga Long Pahangai dan Long Apari mendapatkan hak dan pelayanan yang sama meskipun tinggal jauh dari pusat pemerintahan,” ucap Tubuq.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....