Modul Pembelajaran Fidelis Nyongka Disusun untuk Lima Sekolah Adat Kubar
- 31 Agt 2026 15:32 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Modul pembelajaran sekolah adat yang digagas Pegiat Budaya Kutai Barat (Kubar), Fidelis Nyongka, disusun untuk lima sekolah adat yang telah berkembang di sejumlah komunitas masyarakat adat di Kubar.
Kelima sekolah adat tersebut tersebar di sejumlah wilayah Kubar. Seperti Sekolah Adat Dayeq Lewangan (Jumetn Tuoyatn) di Komunitas Jumetn Tuoyatn, Kecamatan Barong Tongkok. Kemudian, Sekolah Adat Jue Bulau di Kampung Dingin, Kecamatan Muara Lawa.
Selanjutnya Sekolah Adat Komunitas Dayak Benuaq Tementekng di wilayah pedalaman Dusun Pusung, Sekolah Adat Louu Melapeh, serta Sekolah Adat Ton Danum di Kecamatan Bongan.
“Kelima sekolah adat tersebut telah berkembang di tingkat komunitas dan menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal pengetahuan adat dan budaya,” kata Fidelis, Senin 31 Agustus 2026.
Dalam pengembangannya, sekolah adat tersebut berada dalam ekosistem pendidikan adat yang dibangun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melalui Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara (YPMAN).
Fidelis menjelaskan, keberadaan sekolah adat tidak terlepas dari peran komunitas masyarakat adat yang memiliki keinginan untuk membangun ruang belajar bagi generasi muda. AMAN kemudian memberikan fasilitasi dalam proses pengembangannya.
Meski berada dalam ekosistem pendidikan adat AMAN, pembentukan sekolah adat di tingkat komunitas tetap berasal dari masyarakat adat sendiri. Komunitas menjadi pihak yang memiliki kebutuhan sekaligus menjalankan kegiatan sekolah adat.
"Artinya bukan kami yang ingin membentuk, tetapi komunitasnya. Kita fasilitasi," ujar Fidelis.
Kegiatan pembelajaran di sekolah adat, tidak hanya diperuntukkan bagi anak usia dini. Pesertanya berasal dari berbagai jenjang, mulai PAUD, SD, SMP hingga SMA. Keikutsertaan anak-anak juga didasarkan pada kemauan mereka mengikuti kegiatan yang berlangsung di komunitas.
Aktivitas Sekolah Adat Sempat Terhambat Covid-19
Fidelis menyebut kegiatan sekolah adat sebelumnya biasa dilaksanakan secara rutin setiap pekan. Namun, aktivitas tersebut sempat mengalami gangguan setelah pandemi Covid-19 dan hingga kini belum seluruhnya kembali seperti kondisi sebelumnya.
“Itu biasanya mereka seminggu sekali, namun setelah COVID dulu, itu agak terganggu sampai hari ini, tapi masih ada juga yang melakukan kegiatannya,” ucap Fidelis.
Meski mengalami kendala, kegiatan sekolah adat masih berjalan di sejumlah komunitas. Fidelis mencontohkan sekolah adat di Lambing yang dinilainya memiliki cukup banyak anak yang mengikuti kegiatan.
Ditambahkan, sekolah adat menjadi ruang bagi komunitas untuk mempertahankan pengetahuan adat dan budaya yang masih tersisa. Pembelajaran tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan kembali pengetahuan lokal kepada generasi muda.
“Mungkin tidak bisa dipertahankan 100%. Mungkin ada 50%, 75% tersisa, yang bisa diselamatkan,” katanya.
Salah satu pengetahuan yang dinilai paling penting untuk dipertahankan adalah bahasa daerah. Penggunaan bahasa Indonesia yang semakin dominan dalam kehidupan keluarga membuat sebagian anak tidak lagi menguasai bahasa daerah komunitasnya.
Karena itu, sekolah adat memiliki peran dalam memperkenalkan bahasa dan pengetahuan lokal secara langsung kepada anak-anak. Pembelajaran dapat dilakukan sesuai dengan karakter budaya dan lingkungan masing-masing komunitas.
Fidelis berharap keberadaan lima sekolah adat tersebut dapat terus berjalan dan berkembang. Modul yang sedang disusun nantinya diharapkan menjadi salah satu pegangan bagi pengajar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah adat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....