Kearifan Lokal dan Budaya Dukung Pertanian Masyarakat di Mahulu

  • 06 Apr 2026 08:19 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Mahulu - Syukuran Laliq Ataq pare maring atau padi baru kembali digelar sebagai tradisi adat masyarakat di Kabupaten Mahakam Ulu. Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh para petani.

Ritual tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga sarat makna filosofis. Masyarakat memaknai panen sebagai anugerah yang harus dijaga keberlanjutannya.

Asisten I Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, Agustinus Teguh Santoso menilai tradisi ini memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat. Ia menyebut Laliq Ataq sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Menurutnya, keberhasilan panen tidak terlepas dari keseimbangan lingkungan yang tetap terjaga. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk terus merawat alam sebagai sumber kehidupan.

“Syukuran Laliq Ataq pare maring tidak hanya sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam,” ujar Teguh, Senin, 6 April 2026.

Ia menambahkan bahwa tradisi tersebut juga memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

“Pelestarian tradisi syukuran pare maring juga menjadi bagian dari strategi menjaga identitas budaya daerah, sekaligus menunjukkan bahwa nilai tradisional dapat berjalan seiring dengan pembangunan modern,” katanya.

Pemerintah daerah berharap kegiatan ini terus dilestarikan oleh generasi muda. Tradisi Laliq Ataq diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri dan kearifan lokal masyarakat Mahakam Ulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....