Limbah Pabrik Kelapa Sawit Diduga Cemari Sungai Lawa

  • 12 Mei 2024 14:54 WIB
  •  Sendawar

KBRN, Sendawar: Sungai Lawa di Kampung Suakong, Kecamatan Bentian Besar Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) diduga tercemar oleh limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sejak awal tahun 2023 lalu.

Kepala Kampung Suakong, Nil John mengatakan, pencemaran limbah sawit itu diduga bersumber dari salah satu PKS PT Borneo Citra Persada Jaya (BCPJ) yang beroperasi di Kampung Jelemuq Sibaq atau Kampung Tetangga Suakong.

“Kami sudah cek ke lapangan untuk mencari sumbernya. Jadi dari pabrik itu, ada limbah yang mengalir ke Sungai Dasen di Kampung Jelemuq Sibaq. Sungai Dasen ini kan anak Sungai Lawa, otomatis ngalirnya ke Lawa. Kalau di Jelemuq Sibaq nya, gak ada masalah karena kampungnya di ulu, yang kena dampak nya kami di Kampung Suakong yang di ilir ini,” kata Nil John kepada RRI, Minggu (12/5/2024).

Kepala Kampung Suakong, Nil John. (dok.RRI/Jaang)

Akibat kondisi itu, menurut John, membuat resah karena sungai lawa merupakan sumber penghidupan bagi warga Kampung Suakong.

“Kami resah, karena air ini kan sumber bagi kami. Sungai ini tempat kami mandi, rekreasi, cari ikan, buat masak juga, pokok nya segala macam lah. Dulu itu, sungai Lawa ini segalanya bagi kami. Tapi sekarang, kata orang itu, ngeri-ngeri sedap kita,” ucapnya.

Bukan hanya sekali dua kali. Kejadian serupa beberapa kali terulang di tahun 2023. Parahnya, saat limbah mengalir, warna sungai lawa berubah menjadi kehitaman dan banyak hewan air seperti Ikan, Udang, Kepiting, hingga Siput yang mati.

“Kalau ini terus terjadi, kami khawatir ekosistem di sungai lawa, terutama ikan dan sejenisnya bisa punah. Khawatir juga, air ini tidak bisa kami gunakan lagi, sementara sekarang masih banyak warga yang mandi dan memanfaatkan sungai lawa untuk masak,” tandas Nil John.

Kejadian itu terulang kembali pada Kamis (9/5/2024). Bahkan kali ini dinilai sangat parah, sampai mengeluarkan aroma yang tidak sedap (busuk), tercium sampai ke rumah warga yang ada di bantaran sungai lawa.

Bernath Frengky, Warga Kampung Suakong, Kecamatan Bentian Besar Kabupaten Kutai Barat. (dok.RRI/Jaang)

“Kejadian kayak gini biasanya pas lagi hujan. Nah kemarin itu bau nya sangat menyengat, seperti bau “bangkai”. Terus banyak ikan yang timbul, gitu juga segala Siput, Kepiting sampai udang bermunculan semua ke permukaan karena mau mati,” kata Bernath Frengky, salah satu Warga Suakong.

Menurut warga Suakong yang tinggal dibantaran sungai Lawa tersebut, kejadian kali ini paling parah, sampai di rasakan juga oleh warga Kampung Dilang Puti, kampung yang juga berdekatan dengan Kampung Suakong.

“Ini parah, kalau sebelum-sebelumnya hanya kami di Suakong aja yang merasakan, tapi yang kali ini, warga di Dilang Puti menyampaikan kalau mereka juga merasakan hal yang sama” lanjut Frengky.

Dengan kondisi yang sudah berulang kali terjadi, tentu warga merasa tak nyaman. Mau tidak mau menggunakan sungai lawa untuk kebutuhan konsumsi.

Abiyel, Warga Kampung Suakong. (dok.RRI/Jaang)

“Sampai sekarang memang kita masih manfaatkan sungai lawa ini untuk kebutuhan konsumsi. Cuman sekarang, dengan kondisi yang sering kayak gini ya kami takut-takut juga,” kata Abiyel warga Suakong lainnya.

Abiyel menjelaskan, kejadian seperti ini bisa memakan waktu satu minggu meninggalkan bau busuk dari ikan dan hewan air nya yang mati akibat kejadian tersebut. Hal itu juga yang menyebabkan warga kesulitan karena belum ada air bersih di Suakong.

“Tergantung dari keadaan airnya, kalau air nya kecil mungkin bisa sampai seminggu. Tapi kalau airnya besar, ya mungkin empat sampai lima hari baru bisa normal,” jelasnya.

Sebab itu Ia berharap masalah ini segera menjadi Perhatian Pemerintah, mulai dari Kampung hingga Kabupaten termasuk pihak terkait lainnya, agar kejadian serupa tidak berulang terus-menerus.

“Kami juga pengen hidup tenang, tidak takut menggunakan air lawa ini untuk keperluan kami,” pungkas Abiyel.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....