Salah Kaprah, Air Es Tak Redakan Pedas
- 15 Okt 2025 21:58 WIB
- Sendawar
KBRN, Sendawar : Saat kita makan makanan pedas, naluri pertama seringkali adalah mencari air es atau minuman dingin untuk meredakannya. Namun faktanya, minum air es justru bisa memperparah sensasi pedas. Kenapa begitu? Berikut penjelasannya:
Kapsaisin Tidak Larut dalam Air Biasa
Rasa pedas pada cabai disebabkan oleh senyawa bernama kapsaisin. Senyawa ini tidak mudah larut dalam air tawar, termasuk air es. Jadi ketika kita membilas lidah dengan air es, kapsaisin tetap menempel di reseptor pengecap lidah (reseptor TRPV1), membuat rasa pedas tidak hilang malah terasa semakin intens.
Air Dingin Membuat Pengecap “Mati Sementara”
Ketika lidah terkena air es, suhu yang sangat dingin dapat menurunkan sensitivitas reseptor rasa sementara. Akibatnya, rasa pedas yang tadinya “tersembunyi” bisa terasa melonjak ketika lidah kembali ke suhu normal. Seolah-olah pedasnya muncul lagi setelah air es hilang.
Efek Kontraksi pada Saluran Usus
Beberapa orang mengalami kontraksi ringan di sistem pencernaannya ketika mengonsumsi air es saat kepedasan, yang bisa memperkuat sensasi terbakar atau “keterkejutan” rasa di dalam tubuh.
Pilihan yang Lebih Baik: Air Hangat atau Susu
Karena air biasa (termasuk es) tidak efektif mengikis kapsaisin, banyak ahli menyarankan untuk minum air hangat atau susu. Air hangat dianggap lebih membantu melarutkan kapsaisin, sedangkan susu mengandung lemak dan protein yang bisa “mengikat” kapsaisin sehingga rasa pedas dapat berkurang.
Misalnya, Dr. Ari Fahrial Syam dari RSCM pernah menyebut bahwa air hangat lebih efektif daripada air dingin untuk meredam pedas karena sifat pengencer hangat yang lebih baik.
Dengan memahami cara kerja rasa pedas dan bagaimana kapsaisin berinteraksi dengan air dan suhu, kita bisa memilih minuman yang lebih tepat saat kepedasan agar sensasi “terbakar” bisa lebih cepat reda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....