Berkarya 46 Tahun, Margono Satu-satunya Pengrajin Batik Tulis

  • 02 Mar 2024 21:34 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Ditengah gempuran teknologi, masyarakat tak asing lagi dengan hadirnya batik printing atau cetak. Namun, bagaimana dengan nasib batik tulis yang eksotis?

Ternyata, masih ada perajin konsisten mempertahankan identitas asli dari batik tulis. Salah satunya adalah Margono, pengrajin batik asal kota Solo yang masih eksis dengan karya batik tulis kontemporer -nya.

Sudah 46 tahun sejak tahun 1978 silam, Margono menjatuhkan hobinya untuk membatik kontemporer. Baginya, batik tulis memiliki nilai seni tinggi yang tiap goresannya unik dan berbeda.

"Batik tulis ini, limited edition. Jadi ga ada yang sama ini motifnya," ujarnya, Sabtu (2/3/2024).

Margono menyebut batik tulis kontemporer "margono" memiliki ciri khas motif kuas. Untuk mengerjakan satu helai batik ukuran 2 meter membutuhkan waktu 3 hari.

"Kainnya katun 2 meter, dengan warna reaktif. Ciri khas saya motif kuas. Jadi ada goresan kuas. Satu kain bisa 3 hari. 1 kain 4 proses pembuatan dari kain, di canting diwarna sampai jadi. Kalau harganya 2 meter ini bisa Rp300 ribu keatas," ungkapnya.

Margono kini menjadi satu satunya pengrajin batik tulis kontemporer di Surakarta. Kelompok seniman batik surakarta yang dipimpinnya selama 30 tahun, kini tidak ada lagi anggotanya.

"Saya ketua seniman batik Surakarta selama 30 tahun.Jadi saya tau ternyata batik kontemporer itu anggotanya sudah banyak yang meninggal. Seniman batik tulis di kota Solo saat ini sudah habis mbak. Karena sudah tidak bisa eksis karena sudah usia 70-80 jadi sudah buyutan," terangnya.

Istrinya, Santy Margono menyebut karyanya kini bisa ditemui pecinta batik di kampung batik Laweyan Surakarta dan di Pusat oleh-oleh Jawa Tengah di Semarang. Ada sekitar 15 pengrajin yang masih eksis membantu bisnisnya dalam melestarikan budaya.

"Margono batik Tulis Kontemporer, yang berada di kampung Batik Laweyan, jalan sidoluhur 27B Laweyan Surakarta, juga di pusat oleh oleh UMKM canter Jawa Tengah. Kalau pembatiknya dulu bisa banyak sekarang tinggal 15 orang," ujarnya.

Kini, batik margono telah eksis hingga mancanegara salah satunya Filipina. Akan tetapi margono memastikan tidak semua karyanya dipasarkan ke luar negeri tetapi dikembangkan untuk dalam negeri.

Rekomendasi Berita