Gerakan Pangan Murah BI Jateng, Warga Kota Semarang Akui Hemat Rp100 Ribu
- 11 Mar 2026 13:29 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Gerakan pangan murah (GPM) yang digelar Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah bersama Pemerintah Kota Semarang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kegiatan ini digelar serentak di 177 kelurahan di Kota Semarang dan sebelumnya telah digelar di kabupaten/kota se- Jawa Tengah.
Program tersebut membuat warga bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Salah satunya ada paket sembako dalam satu ember senilai sekitar Rp150 ribu yang dijual hanya diharga Rp50 ribu.
Salah satu warga Kelurahan Kranggan, Setiawan mengaku hemat Rp100an, paket yang ia beli seharga Rp50 ribu itu berisi gula pasir satu kilogram, beras lima kilogram, minyak goreng dua liter, serta lima bungkus mi instan.
“Lebih murah ini. Beras saja di pasar sudah berapa Rp70 ribu sekilo, belum yang lain-lainnya,” ujarnya saat kegiatan Gerakan Pangan Murah dan Bazar Ramadan di Balai Kota Semarang, Rabu 11 Maret 2026.

Warga Semarang lainnya, Pur, juga mengaku terbantu dengan adanya bazar pangan murah tersebut. Ia membeli sejumlah kebutuhan pokok seperti gula pasir dan minyak goreng dengan harga lebih terjangkau.
“Harganya agak mirip, kalau di pasar gulanya itu Rp18 ribu tapi di sini cuma Rp17 ribu. Yang terasa naik itu minyak goreng, kalau beras memang sudah lama naik tapi masih standar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Noor Nugroho atau Nunu mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kolaborasi dilakukan bersama Pemerintah Kota Semarang, TPID, Bulog, BUMD pangan, pelaku usaha, dan berbagai mitra strategis.
Menurut Nunu, Gerakan Pangan Murah menjadi langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga pangan. Program ini juga dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Ia menjelaskan, inflasi Jawa Tengah pada Februari 2026 mengalami peningkatan tekanan harga. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,76 persen atau sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,68 persen.
Di Kota Semarang, inflasi juga meningkat namun masih berada di bawah tingkat provinsi. Inflasi Kota Semarang tercatat sebesar 0,67 persen secara bulanan.
"Kalau Semarang, Alhamdulillah. pengendalian inflasinya cukup baik. Jadi dengan share yang besar sekitar 32- 33%, 23% itu dia bisa sedikit menarik ke bawah inflasi yang terjadi di tempat-tempat lainnya, di kota IHK lainnya," ujarnya.
Tekanan inflasi di Kota Semarang terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan sekitar 2,04 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan peningkatan harga di atas dua persen.
Beberapa komoditas pangan yang memberi andil terhadap inflasi antara lain daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, cabai merah, serta telur ayam ras. Kondisi ini dipengaruhi masa tanam yang membuat produksi terbatas, cuaca ekstrem, serta meningkatnya permintaan selama Ramadan.
Nunu menilai Kota Semarang memiliki peran strategis dalam pengendalian inflasi di Jawa Tengah. Hal ini karena bobot inflasi Kota Semarang mencapai sekitar 32,76 persen terhadap inflasi provinsi.
Menurutnya, jika inflasi di Kota Semarang dapat terkendali maka stabilitas harga di tingkat provinsi hingga nasional juga akan lebih terjaga. Secara umum, perkembangan harga pangan di Kota Semarang pada Maret 2026 juga relatif lebih terkendali dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data harga rata-rata harian, sejumlah komoditas seperti beras kualitas bawah dan medium, daging sapi, daging ayam, telur ayam ras, serta gula pasir masih relatif stabil. Kondisi ini menunjukkan pasokan pangan utama masih dalam keadaan terjaga.
Di sisi lain, beberapa komoditas hortikultura justru mengalami penurunan harga. Misalnya cabai rawit hijau yang turun dari sekitar Rp57.000 menjadi Rp48.000 per kilogram serta cabai keriting yang juga mengalami penurunan harga.
Namun demikian, ia tak memungkiri terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga sehingga perlu diwaspadai. Di antaranya cabai rawit merah yang meningkat dari sekitar Rp76.000 menjadi Rp86.000 per kilogram serta cabai merah besar yang naik dari Rp33.000 menjadi Rp35.000 per kilogram.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah yang tergabung dalam TPID terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui langkah 4K, meliputi ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.
Dalam implementasinya, Bank Indonesia dan TPID Kota Semarang juga memperkuat peran BUMD pangan Lumpang Semar yang terintegrasi dengan berbagai daerah sebagai offtaker hasil pertanian. BUMD ini juga menjadi pemasok bagi kios Pandawa di Pasar Johar serta mobil pangan keliling.
"Jadi pertama dari sisi produksinya kita itu support beberapa petani terutama untuk komoditas yang penyumbang inflasi, mulai dari sisi produksinya kita capacity building, terus ada sebagian juga kita berikan alsintan-nya untuk produksi dan juga untuk pengolahannya di sisi hilirnya. Misalnya kayak beras kita dryer dari situ selanjutnya kita juga bantu untuk distribusinya, salah satunya lewat Lumpang Semar," ujarnya.
Nunu juga mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak dan sesuai kebutuhan. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying karena pasokan pangan masih mencukupi.
Menurutnya, perilaku belanja yang rasional akan membantu menjaga stabilitas harga di pasar. Dengan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, inflasi diharapkan tetap terkendali serta daya beli masyarakat dapat terjaga.