Pasokan Pangan Jateng Surplus, Harga Cabai Jadi Atensi

  • 07 Mar 2026 09:04 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Pasokan pangan Jawa Tengah dipastikan tetap surplus menjelang arus mudik Lebaran 2026. Namun demikian, pemerintah tidak memungkiri tengah memberi perhatian khusus terhadap pergerakan harga cabai yang terus berfluktuatif.

“Seluruh komoditas pangan sesuai proyeksi sampai akhir Maret nanti masih surplus,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah Dyah Lukisari, saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau Gerakan Pangan Murah di Halaman Kantor Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jumat, 6 Maret 2026.

Dyah menyebut sebagai langkah pengendalian harga cabai, Pemprov Jawa Tengah menyalurkan subsidi harga cabai melalui penugasan kepada BUMD Jateng Agro Berdikari. Tahap awal, sekitar tiga ton cabai disalurkan untuk menekan harga di daerah yang mengalami lonjakan.

Dyah menambahkan, intervensi akan terus dilakukan dengan memantau perkembangan harga di lapangan. Selain cabai, komoditas daging sapi juga terpantau mengalami kenaikan harga meski masih dalam batas wajar.

Hasil pemantauan sementara menunjukkan harga beras masih relatif stabil di pasaran. Stok beras di Jawa Tengah tercatat surplus sekitar 1,5 juta ton sedangkan ketersediaan telur mencapai sekitar 135 ribu ton, gula pasir 54 ribu ton, serta minyak goreng sekitar 5.000 liter.

"Insyaallah sekalipun ada pengungkit nanti kita masih bisa mencukupi kebutuhan pangan baik untuk bentuk asli Jawa Tengah maupun pemudik yang akan masuk ke Jawa Tengah," katanya.

Adapun, untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, Pemprov Jawa Tengah bersama Satgas Pangan melakukan pemantauan rutin di berbagai daerah. Pemantauan tersebut juga melibatkan pemerintah kabupaten/kota serta aparat kepolisian melalui Satgas Pangan Polri.

Sebelumnya, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Andi Riena Sari mengatakan harga beras saat ini masih relatif terkendali. Namun komoditas cabai dan bawang merah mengalami tekanan akibat faktor cuaca.

Curah hujan yang tinggi membuat proses panen menjadi lebih sulit bagi petani. Selain itu, kondisi lahan yang lembap juga memengaruhi kualitas hasil panen sehingga pasokan ke pasar menjadi terbatas.

"Dari pantauan harga memang ee beras relatif terkendali, kemudian cabe yang memang saat ini seperti kita ketahui kendala cuaca yang memang sangat agak ini ya susah diprediksi sehingga ternyata ini mempengaruhi panen dari teman-teman petani," tuturnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya produksi cabai di sejumlah sentra masih cukup banyak di lahan. Namun kendala panen akibat faktor cuaca menyebabkan distribusi ke pasar tidak maksimal sehingga memicu kenaikan harga.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, provinsi ini menjadi salah satu tujuan utama arus mudik Lebaran. Pada tahun ini diperkirakan sekitar 17 juta pemudik akan masuk ke Jawa Tengah, meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Lonjakan jumlah pemudik tersebut diperkirakan turut meningkatkan kebutuhan pangan di daerah. Karena itu pemerintah daerah diminta mengantisipasi potensi lonjakan permintaan sejak dini.

"Saya minta tolong tetap lakukan Gerakan Pangan Murah, terus cek pasar agar tahu pergerakan harga. Gunakan satgas pangan di masing-masing kabupaten/kota untuk menghindari penimbunan dan panic buying," katanya saat memberikan arahan.

Ia juga menginstruksikan Satgas Pangan di seluruh kabupaten/kota aktif mengawasi distribusi pangan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah penimbunan barang maupun praktik panic buying di masyarakat.

Rekomendasi Berita