Bank Indonesia: Jateng Kalungan Wesi, Potensi Wisata Jateng

  • 25 Jul 2025 13:49 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Jalur rel kereta di Jawa Tengah tak sekadar infrastruktur transportasi. Ia menyimpan jejak panjang peradaban dari era Mataram Hindu, Mataram Islam, hingga kolonial Belanda.

Kini, rel-rel itu membentuk Kalungan Wesi—sebuah “kalung besi” yang melingkari wilayah Joglo Semar. Kalungan Ini bukan sekadar simbol, melainkan potensi konektivitas untuk dapat diangkat sebagai wisata sejarah dan ekonomi daerah.

Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah mendorong optimalisasi jalur ini melalui program “Jasirah Race”. Sebuah ajang sport tourism yang mengintegrasikan wisata sejarah dengan moda kereta api.

Kepala BI Jateng Rahmat Dwisaputra menyebut, rel ini bukan benda mati, melainkan jalur hidup bagi promosi wisata. Ia menegaskan, Kalungan Wesi adalah penghubung antarperadaban yang kini bisa menjadi penggerak ekonomi baru.

"Ini mewujudkan ramalan Jayabaya kurang lebih 900 tahun yang lalu, bahwa suatu saat Jawa akan kalungan besi. Itu terbukti ketika zaman kolonial Belanda," ujarnya saat Talk Show Meniti Wisata Sejarah: Jawa Kalungan Wesi di Lawangsewu, Semarang, Jumat (25/7/2025).

Lima kota utama yakni Semarang, Tegal, Purwokerto, Solo, dan Yogyakarta, disasar sebagai titik koneksi utama. Para peserta Jasirah Race menelusuri situs sejarah, kuliner khas, hingga UMKM lokal di sepanjang lintasan.

Disebutkannya, jalur kereta api peninggalan kolonial menjadi infrastruktur siap pakai yang sayang jika tidak dioptimalkan. Bahkan, ia membayangkan potensi wisata sejarah via kereta ini ke depan berkonsep hotel di atas kereta, seperti Orient Express, guna menambah daya tarik wisata.

"Kereta api ini mungkin bisa lebih ditingkatkan dan bahkan ke depannya kalau ada hotel on the train mungkin akan lebih keren lagi. Akan lebih ganteng lagi kayak semacam di Tibet kemudian di India maupun di Irlandia atau Orient Express begitu," usulnya.

Sekda Jawa Tengah, Sumarno menyebut Jawa Tengah sebetulnya sudah memiliki modal wisata yang lengkap. Hanya saja dibutuhkan pemaketan pariwisata dan kreativitas agar dapat menarik wisatawan.

Ia mencontohkan, Pantai Selatan Kebumen misalnya, dinilai tak kalah dengan Bali. Situs Sangiran juga mempunyai daya tarik yang kuat jika dibungkus dengan strategi tepat.

Kini, Pemprov Jateng menggenjot konektivitas dan event tematik wisata di tiap kabupaten/kota. Salah satu yang terus dikembangkan adalah sport tourism, seperti lari dan petualangan berbasis rel kereta.

"Modalnya sudah ada semua. Tinggal tadi, bagaimana mempromosikan, bagaimana memaketkan, bagaimana supaya orang itu masih tertarik ya, bisa tertarik," tuturnya.

Sementara, Mangkunegara X, Gusti Bhre menekankan pentingnya menjadikan Semarang, Solo, dan Yogyakarta sebagai tiga gerbang wisata. Ketiganya bukan sekadar kota, melainkan memiliki hubungan strategis wisata sejarah dan budaya.

Menurut Gusti Bhre, dalam menumbuhkan pariwisata, narasi dan nilai sejarah lebih penting daripada sekadar bentuk fisik dari destinasi. Wisata butuh alasan untuk dikunjungi kembal, bukan sekadar tempat untuk dilihat sekali.

"Seperti di Mangku Negoro itu bangunannya ya sampai kapan pun seperti itu aja, tapi yang kita harus juga memberikan alasan untuk orang-orang itu terus berkunjung ke Solo. Seperti Sura, tiap tahun kita kembangkan terus dari acara satu malam saja perputaran ekonomi itu kurang lebih Rp41 miliar," ucapnya.

Ia juga menyoroti potensi reaktivasi jalur rel tua seperti di Lasem, yang kaya akan warisan budaya Tionghoa-Jawa. Rel lama ini bisa jadi jalur baru wisata sejarah jika digarap serius.

Peta digital Jasirah kini menampilkan informasi destinasi di sekitarnya secara interaktif. Pengguna bisa langsung mengetahui situs sejarah, tokoh penting, dan cerita lokal di setiap titik singgah.

Rel tidak lagi hanya jalur logistik, tapi panggung narasi sejarah yang bisa dijual ke generasi muda. Dengan SDM terlatih dan narasi kuat, Kalungan Wesi bisa menjadi daya tarik global.

Infrastruktur telah tersedia, aplikasi telah siap, tinggal menghidupkan pengalaman wisatanya. Jika digarap konsisten, Kalungan Wesi akan menjadi kebanggaan baru Jawa Tengah di kancah pariwisata sejarah Indonesia.

Rekomendasi Berita