Di Balik Pantulan Bola, Ada Tekad Atlet Para Tenis Meja Semarang

  • 12 Mar 2026 19:08 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID., Semarang- Dunia olahraga tak hanya milik mereka yang bertubuh sempurna. Di balik semangat para atlet disabilitas, tersimpan kisah perjuangan dan tekad luar biasa, termasuk dari para atlet para tenis meja di Kota Semarang.

Salah satu atlet yang terus menyalakan semangat di arena ini adalah Tutut Riani. Ia merupakan atlet para tenis meja Semarang dari kategori tunanetra.

Tutut sudah mengenal olahraga ini sejak duduk di bangku SMP, dan bergabung secara resmi dengan NPCI Kota Semarang sejak tahun lalu. Kini, setelah menyelesaikan kuliah, ia tetap aktif berlatih dan mengikuti berbagai ajang perlombaan.

Tutut mengakui, menjadi atlet dengan keterbatasan penglihatan bukan hal mudah. Tantangan terbesarnya adalah menjaga fokus dan meningkatkan kepekaan saat bermain, terutama untuk membaca arah bola dari suara pantulannya.

Namun, baginya, setiap latihan adalah pembuktian bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Dalam momen yang sama, Tutut mengajak teman-teman disabilitas lainnya untuk ikut bergabung di dunia olahraga.

Menurutnya, banyak jalan yang bisa dilalui untuk menunjukkan kelebihan dan potensi diri, termasuk lewat olahraga. Ia percaya, semangat yang kuat mampu membuka jalan menuju prestasi, sekaligus menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kisah Tutut dan para atlet lainnya menjadi pengingat, bahwa kekuatan sejati tak selalu terlihat dari fisik, melainkan dari tekad dan keberanian untuk terus berjuang. Dari meja tenis, mereka bukan hanya memantulkan bola, tapi juga memantulkan harapan.

Dalam dunia para tenis meja, klasifikasi atlet dibagi menjadi 12 kelas. Kelas satu hingga lima merupakan atlet pengguna kursi roda, kelas enam sampai sepuluh untuk tunadaksa, kelas sebelas tunagrahita, dan kelas dua belas untuk tunanetra.

Meski prestasi demi prestasi mulai diraih, jumlah atlet para tenis meja di Semarang ternyata masih tergolong sedikit. Hal ini diungkapkan pelatih para tenis NPCI Kota Semarang, Sriyono.

Ia menyebut, hingga kini Semarang baru memiliki dua atlet putra dan dua atlet putri dari kategori tunagrahita. Sementara dari kategori tunadaksa, belum ada atlet putri sama sekali yang bergabung.

Sriyono menambahkan, sebenarnya cabang olahraga ini terbuka luas bagi siapa saja yang ingin mencoba. Latihan rutin digelar seminggu beberapa kali, namun antusiasme peserta masih rendah.

Ia berharap semakin banyak penyandang disabilitas yang berani tampil dan menekuni olahraga ini. Khususnya, sebagai wadah pengembangan diri.

Rekomendasi Berita