Jauh dari Tanah Air, Mahasiswi Indonesia di Iran Justru Kian Nasionalis

  • 12 Mar 2026 14:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Iran menilai pengalaman belajar di luar negeri justru memperkuat rasa nasionalismenya terhadap tanah air. Hal itu disampaikan Nur Hafidzatul Ilma Alfidyah, mahasiswa Ahlul Bayt International University, Tehran, Iran.

Ilma mengaku sejak awal memilih melanjutkan studi ke luar negeri dengan tujuan memperluas wawasan serta melihat bagaimana ilmu sosial berkembang dalam masyarakat yang heterogen. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka perspektif baru, namun tidak menghilangkan identitas sebagai warga Indonesia.

“Justru semakin jauh dari tanah air, kami itu semakin sadar bahwa identitas kami itu dibentuk oleh pengalaman hidup di sana(Indonesia-red), beberapa tahun di sini tidak bisa membayarkan 20 tahun sekian di Indonesia. Jadi kami lebih menghargai keberagaman, terutama nilai kebersamaan yang kuat dalam masyarakat kita,” ujarnya.

Ilma mengatakan, proses adaptasi selama kuliah di Iran tidaklah mudah, terutama dalam hal bahasa. Mahasiswa internasional diwajibkan mengikuti program intensif bahasa Persia selama sekitar tujuh bulan sebelum memasuki perkuliahan akademik.

Selain tantangan bahasa, mahasiswa juga dituntut lebih aktif dalam proses pembelajaran. Ia menjelaskan, dalam proses belajar di kelas, seluruh mahasiswa diperlakukan sama tanpa membedakan latar belakang negara maupun kemampuan awal.

“Mahasiswa di sini benar-benar dituntut aktif, terutama dalam berbahasa dan berdiskusi. Jadi, mau tidak mau kami harus cepat beradaptasi,” katanya.

Sebagai mahasiswa Indonesian yang menerima beasiswa dari pemerintah Iran, Ilma menilai pengalaman belajar di luar negeri tetap harus menjadi bekal untuk berkontribusi bagi Indonesia. Ia menegaskan banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri tetap menjaga keterikatan dengan tanah air melalui organisasi pelajar.

Salah satunya melalui kegiatan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran yang secara rutin mengadakan diskusi isu-isu Indonesia serta berbagai kegiatan akademik dan sosial. Selain itu, mahasiswa juga tetap terhubung dengan tanah air melalui kegiatan yang difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Menurut Ilma, pengalaman global tidak dimaksudkan untuk menjauh dari Indonesia, melainkan sebagai bekal untuk kembali dan memberikan kontribusi. “Pergilah dengan niat yang kuat, tetapi tahu arah dan tujuan kontribusi, ilmu yang kita cari akan lebih berarti ketika kita tahu untuk siapa ilmu itu digunakan,” ujarnya.

Meski beberapa waktu lalu ramai di jagat maya tentang nasionalisme mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri, Ilma menegaskan bahwa masih sangat banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tetap memiliki komitmen untuk kembali. Mereka tetap berkeinginan untuk berkontribusi bagi bangsa setelah menyelesaikan studi mereka.

Rekomendasi Berita