Ramadan, Ruang Kebersamaan di tengah Keberagaman

  • 11 Mar 2026 11:42 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Ramadan selalu identik dengan ibadah, menahan lapar dan dahaga, serta memperbanyak kebaikan. Namun, lebih dari itu, bulan ini juga menghadirkan ruang perjumpaan yang hangat, tempat berbagai perbedaan dipertemukan dalam kebersamaan.

Menjelang waktu berbuka, suasana di berbagai sudut kota terasa berbeda. Orang-orang mulai berkumpul, berbagi makanan, dan saling menyapa, menciptakan momen sederhana yang mempererat hubungan antarmanusia.

Bagi umat muslim, Ramadan adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperkuat hubungan dengan sesama. Nilai kebersamaan ini juga sering kali dirasakan oleh mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa.

Salah satu warga Kota Semarang, Elin menceritakan, Ramadan justru menjadi waktu yang paling terasa hangat dalam kehidupan sosialnya. Ia melihat banyak orang saling berbagi dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Bulan Ramadan itu tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, juga tentang bagaimana kita belajar lebih sabar, lebih peduli, dan berbagi dengan orang lain, tanpa melihat latar belakangnya," ungkapnya.

Menariknya, suasana kebersamaan ini bukan hanya dirasakan oleh para muslim yang merayakan, tetapi begitupun nonmuslim. Mereka ikut merasakan atmosfer Ramadan melalui tradisi berbagi makanan, menjaga toleransi, hingga menghormati teman yang sedang berpuasa.

Andreas menjadi salah satu warga nonmuslim yang merasakan Ramadan sebagai momen yang memperlihatkan bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Bahkan, ia mengaku pernah ikut berbuka puasa bersama dengan rekan-rekan muslimnya.

"Vibes Ramadan kali ini lebih hangat, karena bersamaan dengan puasa dan pantang umat kristiani, jadi lebih spesial. Kebersamaan juga lebih terasa dengan terlihat banyaknya UMKM di sore hari, orang-orang lebih sering berbagi, toleransi semakin terasa meskipun saya tidak merayakan Ramadan secara khusus," tuturnya.

Sekretaris Jenderal Forum Kerukunan Umat Beragama se-Indonesia, Taslim Sahlan, menilai suasana Ramadan sering menjadi ruang tumbuhnya sikap saling menghormati. Khususnya, di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Toleransi itu bukan dalam konteks menukar iman, tetapi saling menguatkan agar masing-masing semakin baik dalam keyakinannya. Sikap saling menghormati inilah yang menjadi fondasi kuat persatuan,” ujarnya.

Ramadan pada akhirnya bukan hanya milik satu kelompok saja. Nilai kebersamaan, kepedulian, dan saling menghormati justru menjadikan bulan ini sebagai pengingat bahwa perbedaan tidak menghalangi manusia untuk saling terhubung.

Rekomendasi Berita