Kisah Aldi, Pelaut Asal Semarang, Ramadan di Tengah Laut Beku

  • 05 Mar 2026 09:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ramadan bagi sebagian orang identik dengan hangatnya keluarga dan lantunan azan yang bersahutan. Namun bagi Aldi, pelaut asal Semarang, Ramadan justru ia jalani di tengah laut beku, jauh dari rumah dan segala suasana yang akrab di hati masyarakat Indonesia.

Ketika ditanya RRI, “Tahun ini puasa di mana?”, ia bahkan tak bisa memberi jawaban pasti. Hidupnya mengikuti arah kapal yang berlayar dari Jepang, Rusia, Cina, Vietnam, hingga Korea.

Aldi menceritakan kapalnya sempat bersandar di wilayah Kostok, Rusia. Suhu saat itu mencapai minus 12 derajat, bahkan laut di sekelilingnya pun turut membeku.

Udara yang menggigit membuat tangan terasa kaku dan napas berembun setiap kali berbicara. Namun di balik dinginnya cuaca, rasa haus justru tidak terlalu terasa karena tubuh jarang berkeringat.

"Kalau ditanya bagaimana puasa di negeri orang ya sebenarnya lumayan enak sih, Mbak. Waktu ini soalnya musim dingin jadi enggak terasa haus," ujar anak ketiga dari tiga bersaudara ini, Kamis 5 Maret 2026.

Meski secara fisik terasa lebih ringan, ada tantangan lain yang jauh lebih berat dirasakanya. Aldi mengaku menjalani puasa hanya seorang diri di atas kapal, mayoritas kru non muslim berasal dari Cina dan Vietnam.

Aldi menceritakan tak ada suara azan magrib yang berkumandang di tengah laut. Tak ada gema tarawih atau lantunan tadarus seperti di Semarang.

"Soalnya ‘kan enggak seperti di Indonesia, ada suara azan tarawih, jualan takjil, bukber bukber bareng temen. Nah, di sini nggak ada, jadi serasa hari biasa," tuturnya.

Menjelang berbuka, ia mengaku kerap ngabuburit seorang diri berdiri di anjungan kapal sembari memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik hamparan es dan laut yang luas tak bertepi. Di saat-saat itu, rindunya pada rumah diakuinya begitu terasa kuat.

Ia membayangkan keluarganya di Indonesia tengah bersiap menyantap hidangan berbuka bersama, dengan suara azan yang mengalun dari masjid dekat rumah."Ya inget rumah sih, kalau pas buka pasti seru," ujarnya.

Di kapal asing itu, Ramadan nyaris tak terasa berbeda dari bulan lainnya. Namun, justru dalam kesunyian itulah, makna Ramadan menjadi sangat berharga baginya.

Ramadan di tengah laut beku mengajarkannya tentang keteguhan dan kesabaran. Tentang bagaimana menjaga iman, meski jauh dari tanah kelahiran.

"Ya, pengalaman sih, Mbak. Ini juga rezeki, harus disyukuri. Kalau gini, besok-besok kalau Ramadan di rumah juga jadi lebih menghargai lagi, lebih bersyukur," tuturnya.

Rekomendasi Berita