Dibalik Prestasi Atlet Para Tenis, Terselip Kisah Luar Biasa Pelatih
- 12 Feb 2026 16:11 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Di sebuah ruangan sederhana, suara bola tenis yang beradu dengan meja menjadi saksi perjalanan panjang Sriyono, pelatih atlet para tenis meja yang telah lebih dari satu dekade mengabdikan diri. Dari ruang latihan yang sederhana itu, ia mendampingi atlet difabel menembus batas diri mereka.
Sriyono mengaku memulai kariernya sebagai atlet biasa. Ia bukan atlet profesional dan tidak pernah meraih gelar juara nasional.
“Dari awal saya juga atlet biasa, tidak profesional. Kebetulan waktu itu saya melatih di klub di Gris Pedurungan, Semarang,” kenangnya.
Langkahnya di dunia tenis meja tak berhenti sebagai pemain. Ia kemudian menempuh pendidikan wasit hingga tingkat Jawa Tengah sembari aktif melatih anak-anak usia dini di PTM Gris Semarang selama kurang lebih lima tahun.
Pengalaman demi pengalaman memperkaya kemampuannya sebagai pelatih. Kini, lebih dari satu dekade ia mengabdikan diri di dunia tenis meja.
“Saya sudah hampir 10 tahun lebih jadi pelatih. Dari situ kemudian saya menjadi pelatih disabilitas di Soina, Special Olympics Indonesia,” ujarnya.
Momentum penting terjadi pada 2018 ketika dua atlet binaannya dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) berhasil meraih medali di Pekanbaru. Sejak saat itu, Sriyono semakin fokus membina atlet difabel dan aktif di bawah naungan National Paralympic Committee Indonesia(NPCI).
Melatih atlet para tenis meja bukan perkara mudah. Dalam cabang ini terdapat 12 kelas pertandingan dengan klasifikasi berbeda sesuai kondisi fisik dan intelektual atlet.
“Kalau di tenis meja untuk difabel ada 11 kelas, tambah satu tunanetra jadi 12 kelas. Kelas 1 sampai 5 itu kursi roda, kelas 11 itu intelektual, dan terakhir tunanetra punya klasifikasi sendiri,” jelasnya.
Bagi Sriyono, melatih bukan hanya soal teknik pukulan atau strategi permainan. Ia harus memahami kondisi fisik, karakter, hingga psikologis tiap atlet agar pendekatan latihan tepat sasaran.
Lebih dari sepuluh tahun berkecimpung sebagai pelatih, ia menyaksikan bagaimana olahraga mampu mengubah rasa minder menjadi percaya diri. Ia melihat keterbatasan bukan sebagai penghalang, melainkan jalan menuju prestasi.
Baginya, kemenangan tidak semata tentang medali. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa setiap orang, dalam kondisi apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.