Di Balik Keterbatasan, Dua Bersaudara Taklukkan Matras Judo
- 11 Feb 2026 15:10 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Di atas matras judo yang terbentang, dua sosok muda tampak melakukan gerakan demi gerakan dengan penuh konsentrasi. Di sebuah dojo sederhana di Kota Semarang, tubuh mereka bergerak lincah, jatuh, bangkit, lalu kembali mengunci lawan latihannya tanpa ragu di sebuah dojo sederhana di Kota Semarang.
Mereka adalah Joel Atalea dan Joel Kaylovea, dua atlet disabilitas low vision yang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kakak beradik yang akrab disapa Lea dan Key ini membuktikan bahwa mimpinya jauh lebih besar dari keterbatasan yang mereka hadapi.
Keterbatasan penglihatan yang mereka miliki tak pernah terlihat sebagai hambatan. Hal ini justru menjadi bahan bakar bagi semangat yang terus menyala.
Joel Atalea yang lahir di Semarang pada 5 Februari 2006 merupakan atlet judo dari NPCI Kota Semarang. Di usia mudanya, ia telah berhasil mengoleksi berbagai prestasi mulai dari tingkat provinsi hingga nasional.

Perjalanan Lea di dunia judo berawal dari rasa penasaran sederhana ketika melihat latihan yang digelar tidak jauh dari rumahnya. Tanpa ragu, ia meminta izin untuk mencoba, dan sejak saat itu judo menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Kalau dulu ‘tuh ada yang latihan di deket rumah, terus lewat, karena lihat, jadinya pengen ikut, Mama selalu support. Pernah cedera, sering bahkan, tapi gak apa-apa, jadi semangat, pengen masuk event nasional lagi, kalau bisa ke internasional,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Sosok yang tak kalah mencuri perhatian adalah adiknya Key yang lahir di Semarang pada 22 November 2011. Ia kini duduk di kelas 3 SMP dan memiliki semangat yang tak kalah besar dari sang kakak.
Key pertama kali jatuh cinta pada judo ketika melihat perjuangan Lea menembus berbagai kompetisi. Ia pun mulai berlatih dan baru-baru ini berhasil meraih medali emas dalam kejuaraan tingkat kota.
“Aku terinspirasi dari kakak, seneng ikut judo juga. Pernah cedera juga di bahu, tapi sekarang udah sembuh, pengen terus latihan biar bisa ikut kejuaraan yang lebih besar,” tuturnya dengan wajah berbinar.
Bagi dua bersaudara ini, judo bukan sekadar olahraga, melainkan juga ruang bagi mereka untuk belajar. Kekuatan sejati tidak datang dari mata yang melihat, tetapi dari hati yang percaya dan tekad yang tidak pernah padam.
Keduanya saling menguatkan ketika cedera datang, dan saling memotivasi ketika latihan terasa berat. Mereka juga saling menjaga untuk terus melangkah lebih jauh.
Perjalanan Lea dan Key bukan hanya tentang prestasi, melainkan bagian dari geliat olahraga judo yang semakin berkembang di Kota Semarang. Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat terhadap judo meningkat pesat.
Jumlah klub aktif terus bertambah. Hal ini tentunya membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda serta penyandang disabilitas untuk menekuni cabang olahraga judo.
Pelatih judo Semarang, Kho Gunarto, menyampaikan, perkembangan judo saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, sudah ada tujuh klub aktif yang menaungi atlet judo di Semarang, baik atlet umum maupun atlet disabilitas.
Ia menegaskan, judo merupakan olahraga yang aman untuk digeluti oleh penyandang disabilitas, terutama tunanetra. Olahraga ini memiliki aturan ketat yang menjaga keselamatan atlet.
“Sekarang yang aktif bisa sampai tujuh klub, itu membuktikan bahwa olahraga judo di Kota Semarang semakin baik. Untuk teman-teman tunanetra, jangan takut cedera karena judo termasuk olahraga yang aman dan punya aturan yang melindungi atlet,” ujarnya.
Perkembangan judo di Semarang juga didukung oleh Pemerintah Kota Semarang. Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Semarang, Fravarta Sadman menegaskan, dukungan pemerintah merupakan bagian dari upaya mendorong prestasi olahraga daerah.
“Dukungan utama pemerintah itu lewat anggaran hibah. NPCI dan KONI mendapatkan dana hibah dari pemerintah lewat Dispora untuk kegiatan selama setahun, dan kami juga selalu ikut mendampingi setiap event mereka,” jelasnya.
Kisah dua bersaudara ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana olahraga mampu menjembatani harapan, keberanian, dan pencapaian. Semangat mereka menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya soal medali, tetapi tentang kemampuan untuk mengalahkan rasa takut dan terus berjuang.
Dengan dukungan keluarga, pelatih, teman-teman di dojo, serta pemerintah daerah, Lea dan Key bertekad melangkah lebih jauh. Mereka berharap suatu hari bisa mengibarkan nama Kota Semarang di arena internasional dan memberi bukti bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas.