Sirkulasi Moneter Ramadan Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi Pasca Idulfitri

  • 06 Mar 2026 19:47 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Perputaran uang selama Ramadan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat setelah Idulfitri 2026. Jika sirkulasi moneter berjalan lancar, dampaknya tidak hanya terasa saat Lebaran, tetapi juga berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Semarang, Dr. Hardiwinoto, M.Si., menilai bantuan dan sumbangan yang disalurkan dalam bentuk uang memiliki efek pengganda yang lebih luas bagi perekonomian. Menurutnya, fleksibilitas penggunaan uang membuat masyarakat dapat mengatur kebutuhan secara lebih efektif.

“Kami harapkan para dermawan yang mensirkulasikan kekayaannya tidak hanya berbentuk barang, tetapi juga uang. Dengan uang, masyarakat bisa menggunakannya lebih fleksibel, satu atau dua bulan setelah Lebaran sekalipun,” katanya dalam wawancara bersama RRI, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan, ketika uang beredar aktif di masyarakat, aktivitas jual beli akan tetap hidup meskipun momentum hari raya telah berlalu. Perputaran tersebut turut menjaga daya beli serta mendorong pelaku usaha kecil tetap produktif.

Selain faktor bantuan, kondisi panen yang baik di sejumlah daerah juga menjadi penopang ekonomi. Pendapatan petani yang meningkat akan memperkuat konsumsi rumah tangga di desa, yang kemudian berdampak pada sektor perdagangan di perkotaan.

Hardiwinoto menilai kombinasi antara bantuan tunai dan hasil panen yang melimpah menjadi momentum strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, efek positif Ramadan tidak berhenti pada euforia Lebaran semata.

“Ini momentum bagus karena sirkulasi moneter bisa berjalan dengan baik, sementara hasil panen yang baik juga meningkatkan konsumsi masyarakat. Jadi, efeknya terasa tidak hanya saat Lebaran, tapi berkelanjutan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita