Seluruh Umat Manusia Wajib Merawat Bumi
- 30 Sep 2026 15:05 WIB
- Saumlaki
RRI.CO.ID, Saumlaki - Pastor senior Keuskupan Amboina RD. Thomas RatuAnak, saat menyampaikan orasi tegas di depan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar dr. Juliana Chatarina Ratuanak, Sekretaris Daerah Brampi Moriolkosu mengatakan, aksi ini dilakukan sebagai dampak dari perusakan alam.
"Jangan hanya tinggal di AC rasa enak, tidak tahu masyarakat yang menderita kena panas tiap hari. Jadi saya bicara kita pada panas semua," ucap Pastor Ratuanak.
Pastor Ratuanak minta aparat keamanan, untuk berbagai penyampaian aspirasi demi kepentingan rakyat, tidak menggunakan kekerasan. Misalkan kejadian tahun 1992 masyarakat terkena tembakan Polisi
"Saya ada pada waktu itu. Saya harap tidak lagi. Aparat kepolisian sekarang sangat profesional, jangan pakai cara-cara yang konservatif, " harapnya.
Pastor Ratuanak menggambarkan tentang Laudato Si, sejalan Surat Paus Fransiskus tahun 2015, edaran ensiklik untuk memelihara dan merawat hutan. Karena dari Jauh Sri Paus telah memantau seluruh dunia. Dampak negatif daripada pengrusakan hutan dan alam lingkungan, berdampak negatif kepada masyarakat kecil yang sering kali terabaikan oleh pemerintah.
"Saya juga mau menyampaikan bahwa kehadiran Bapak Ibu masyarakat kecil yang ada di sini. Mereka mewakili masyarakat Wertamrian tetapi mereka berjuang bukan hanya karena kebetulan operasi HPH di Kecamatan Wertamrian, mereka berjuang bukan atas nama Wertamrian saja, tapi untuk menyelamatkan hutan Yamdena," terangnya.
Pastor Ratuanak menyatakan, narasi yang disampaikan dan disimak, oleh Wartawan ataupun unsur intelijen harus dirilis sesuai fakta, namun tidak dipelintir dari narasi yang disebutkan.
"Tuhan kasihlah pencipta alam semesta, hutan, dunia, siapa pun. Dan Ia menciptakan alam semesta ini untuk manusia yang Ia ciptakan untuk mereka gunakan demi kesejahteraan. Tetapi dengan mencermati bahwa hutan, alam, lingkungan yang diciptakan oleh Tuhan yang begitu indah kini menjadi hancur berantakan karena ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang hanya mencari kepentingan kekayaan harta duniawi tanpa memandang akan hidup di akhirat," pungkasnya.
Pastor Ratuanak mengulas pesan Paus yang mengajak seluruh umat manusia menjadikan alam ini sebagai rumah bersama dengan hutan yang masih lestari dengan lingkungan yang harmonis yang perlu diperhatikan. Pemerintah sering kali lupa bahwa hutan dan alam adalah rumah kediaman seluruh Umat Manusia yang harus dirawat bersama.
"Baik masyarakat, pemerintah dan siapa saja, tanpa terkecuali, bertanggung jawab untuk menjaga hutan. Dengan mencermati hutan Yamdena yang semakin rusak ini, Gereja mengajak lewat Laudato Si', Terpujilah Tuhan, untuk kita bertobat. Pertobatan ekologis di Yamdena," bebernya.
Pastor Ratuanak mengajak semua elemen, berani melihat kondisi hutan Yamdena dan Eksistensi Hutan sejak dulu diwariskan Tuhan dan Leluhur masih sama dengan Kondisi saat ini.
" Kita harus bertanya, apakah hutan yang kita wariskan kepada anak cucu masih sama dengan hutan yang kita terima dari leluhur kita. Kalau hutan semakin rusak, kita tidak boleh mengatakan itu bukan urusan saya. Baik pemerintah maupun masyarakat, kita semua ikut bertanggung jawab kalau ada persoalan," ujarnya.
Menurutnya, Peran dan tanggung jawab Gereja, tanggung jawab agama untuk hutan Yamdena, Gereja mewakili agama-agama yang lain, untuk memperjuangkan Kondisi ini, dan tidak diam menyikapi dampak eksploitasi Hutan yang menimbulkan Dergradasi masif.
"Gereja hadir bukan untuk mencari musuh. Gereja hadir bukan untuk membela kepentingan pihak tertentu. Gereja berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan pendampingan dan kasih sayang. Gereja menyerukan dialog, keadilan, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama," tambahnya.
Pastor Ratuanak menyebut, PT. Karya Jaya Berdikari, dan Para karyawannya tidak dibenci, namun berani mengkritisi cara pengelolaan hutan yang berpotensi merusak kehidupan.
"Kalau ada persoalan, harus diperiksa. PT Karya Jaya Berdikari ini kami serahkan kepada pemerintah. Kalau ada persoalan dengan masyarakat adat harus diselesaikan. Tapi PT Karya Jaya Berdikari tidak tahu adat. Serobot masuk saja. Laksana pencuri, membabat hutan," imbuhnya.
Pastor Ratuanak berpesan kepada Pemerintah Daerah, yang memilki tanggung jawab menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, masyarakat dan lingkungan.
"Jangan hanya menghitung nilai kayu dan investasi. Hitung juga nilai air, nilai hutan, tanah, satwa dan kehidupan masyarakat. Karena ada hal-hal yang tidak bisa diganti dengan uang. Mari kita bersama-sama menyelamatkan hutan. Karena hutan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tugas masyarakat dan tugas setiap agama," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....