Kain Tenun Ikat Tanimbar
- 07 Okt 2026 14:32 WIB
- Saumlaki
RRI.CO.ID, Saumlaki - Wastra tradisional tenun ikat Tanimbar, yang terus berevolusi dan kini populer dengan sebutan tenun Maluku. Wastra ini bukan sekadar sehelai kain karena terkandung juga warisan tradisi, identitas, dan nilai kebersamaan dalam proses pembuatannya.
Salah satunya kelompok Tenun Ralsasam di Desa Tawiri, Kota Ambon, yang bertahan hingga generasi kedua. "Ralsasam dalam bahasa Tanimbar berarti satu hati. Nama ini diambil ayah saya dari nama Baileo (rumah adat) di Desa Namtabung, Tanimbar," kata Mikel Watumlawar, generasi kedua dari Kelompok Tenun Ralsasam.
Ayah Mikel, almarhum Niko Watumlawar, merintis Ralsasam di Kota Ambon dengan modal Rp 250 ribu pada 1993. Kelompok tersebut juga bertahan dari dampak pandemi Covid-19, dan tahun ini bisa meraup omzet Rp 10 hingga 15 juta per bulan.
Sebelum pandemi, permintaan tenun ikat Tanimbar rutin datang dari Belanda dan Amerika Serikat. Kain Tenun Songke Manggarai Mendunia Melalui Digitalisasi UMKM Kelompok Ralsasam menaungi sedikitnya 10 penenun tradisional di Ambon, dan banyak lainnya di Desa Namtabung di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Para penenun terdiri dari anak muda hingga orang tua. Di Desa Namtabung, tradisi menenun sudah turun-temurun diajarkan ke anak cucu. Kain tenun menjadi identitas masyarakat setempat untuk upacara adat, menyambut tamu, pernikahan, kematian hingga penyelesaian masalah kekerasan dalam rumah tangga.
Keunikan kelompok Ralsasam adalah mempopulerkan lagi pewarna alami untuk benang tenun selain memakai benang pewarna kimia buatan pabrik. Mereka menggunakan kulit pohon mangrove di Tanimbar untuk warna coklat, dan terus mencari warna baru menggunakan tumbuhan-tumbuhan.
(RafiRefualu)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....