Menjaga Nadi Kebudayaan Tanimbar Melalui Pelestarian Bahasa Ibu

  • 22 Sep 2026 14:46 WIB
  •  Saumlaki

RRI.CO.ID, Saumlaki - Bahasa ibu adalah jiwa dari suatu kebudayaan. Bagi masyarakat Kepulauan Tanimbar, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan tatanan adat istiadat, norma sosial, serta penghormatan kepada para leluhur. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan peradaban tutur di Pulau Yamdena kini berada di persimpangan jalan.

Tua Adat Saumlaki, Simon, menegaskan pentingnya mempertahankan bahasa daerah sebagai syarat mutlak dalam menjalankan tradisi adat. Menurutnya, penggunaan bahasa umum (bahasa Indonesia) dalam prosesi adat akan mengubah nilai filosofis serta kesakralan tradisi itu sendiri.

"Adat secara berangsur-angsur akan berubah jika bahasanya diganti. Apabila kita menggunakan bahasa umum untuk menjalankan ritual adat, makna dan esensinya sudah pasti berbeda," ujar Simon.

Di Pulau Yamdena saja, terdapat lima bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakat setempat. Namun, kemudahan berkomunikasi menggunakan bahasa nasional dinilai memicu potensi pergeseran penggunaan bahasa daerah, hingga kekhawatiran timbul bahwa di masa mendatang acara-acara adat akan beralih menggunakan bahasa Indonesia.

Untuk menanggulangi ancaman kepunahan tersebut, Simon mendesak masyarakat Tanimbar agar kembali memunculkan dan memprioritaskan bahasa ibu dalam kehidupan bermasyarakat, mulai dari lingkungan keluarga hingga kampung. Ia juga meminta dinas pendidikan dan pihak sekolah untuk memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum muatan lokal (mulok).

Selain itu, kesadaran dari tingkat keluarga juga dinilai sangat krusial. Orang tua diharapkan secara konsisten menuturkan bahasa daerah kepada anak-anak mereka agar proses pewarisan bahasa ibu dapat terus berlanjut dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....