Gempa Bumi Terus Terjadi, Masyarakatnya Perlu Siaga
- 25 Jul 2026 15:40 WIB
- Saumlaki
RRI.CO.ID, Saumlaki - Kepulauan Tanimbar, tidak sekadar gugusan pulau yang berada di ujung tenggara Maluku. Pada bentang alamnya yang indah, wilayah ini menyimpan kerentanan bencana yang tidak bisa diabaikan.
Gempa bumi menjadi bagian dari dinamika alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi, sementara ancaman tsunami, longsor, cuaca ekstrem. Hingga banjir rob turut menjadi risiko yang perlu diantisipasi masyarakat.
Kepala Stasiun Geofisika Saumlaki Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Netty Yufita saat ditemui RRI.CO.ID Kamis (23/7/26), mengatakan aktivitas kegempaan di wilayah Tanimbar. Sebagai sebuah fenomena yang terus terjadi.
Gempa bumi terjadi setiap hari, tidak selalu dirasakan masyarakat. Menurutnya hampir setiap hari terjadi aktivitas gempa bumi di wilayah Tanimbar. Namun, tidak seluruh gempa tersebut dirasakan masyarakat atau menimbulkan dampak langsung.
“Aktivitas gempa di wilayah Tanimbar khususnya, setiap harinya ada saja kejadian gempa bumi dan banyak juga yang kita rasakan, tetapi tidak terlalu berdampak langsung ke masyarakat,” ujarnya.
Koleadaan ini tidak lepas dari karakteristik geologi wilayah Tanimbar. Meski demikian, sejarah kegempaan menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi mengalami gempa dengan kekuatan besar yang dapat menimbulkan kerusakan.
Pengalaman gempa signifikan yang pernah terjadi pada 2023 menjadi salah satu pengingat penting bagi masyarakat dan pemerintah. Untuk terus memperkuat mitigasi bencana.
“Ini menjadi pengingat untuk kita kalau gempa itu akan terjadi juga di waktu yang akan datang dengan kekuatan yang bervariasi. Kita tidak tahu berapa magnitudonya dan juga intensitas kerusakannya. Yang menjadi kewajiban kita juga merencanakan mitigasi yang tepat untuk wilayah Tanimbar,” katanya.
Ia menilai, kerentanan Tanimbar terhadap bencana, tidak dapat dilepaskan. Dari proses geologi yang membentuk wilayah kepulauan Tanimbar.
Sejarah pembentukan Kepulauan Tanimbar dan kondisi geologi masa lalu menunjukkan adanya dinamika alam yang harus menjadi bahan pembelajaran. Dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.
“Kalau kita melihat dari proses terbentuknya kepulauan Tanimbar ini, berarti ada kejadian bencana di masa lalu yang menimbulkan bagaimana adanya Pulau Tanimbar. Nah, ini juga bisa kita lihat dari historis kejadian dengan geologi masa lalu,” katanya.
Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menunggu bencana terjadi untuk mulai bersiap. Baginya, pertanyaan yang tepat bukan lagi apakah gempa atau tsunami akan terjadi, melainkan sejauh mana masyarakat siap menghadapi dampaknya.
“Kita sudah tinggal di daerah yang aktif gempa bumi, jadi kita tidak bisa tanya apakah kita memang akan ada gempa atau tsunami, karena itu sudah pasti. Jadi kita harus meningkatkan kesiapsiagaan,” katanya menegaskan.
Evakuasi mandiri dimulai dari pengetahuan diri
Ia mengatakan, edukasi kebencanaan terus dilakukan oleh BMKG. Masyarakat didorong untuk memahami kondisi lingkungan tempat tinggal masing-masing dan mengetahui risiko yang mungkin dihadapi.
“Kalau dari kami, kami sudah edukasi selain untuk bisa melakukan evakuasi mandiri, kita mengenali lingkungan kita di mana kita tinggal. Apakah kita tinggal di pesisir pantai, kemudian kita tinggal di daerah yang mudah longsor,” ucapnya.
Menurut dia, gempa bumi tidak hanya menimbulkan guncangan. Dalam kondisi tertentu, gempa dapat memicu bencana ikutan seperti longsor maupun tsunami. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun sebelum peringatan dini dikeluarkan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Ia mengingatkan masyarakat. Untuk tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya ketika terjadi bencana.
BMKG, kata dia, menyediakan berbagai kanal informasi yang dapat diakses masyarakat untuk memperoleh informasi resmi mengenai gempa bumi, tsunami dan cuaca. Juga produk informasi kebencanaan lainnya.
Stasiun Geofisika Saumlaki juga berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Untuk menyampaikan informasi secara berkala.
Informasi tersebut antara lain disajikan. Dalam bentuk infografis yang memuat perkembangan aktivitas kegempaan dan fenomena cuaca di wilayah Tanimbar.
Perlu dipahami, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan tepatnya gempa bumi akan terjadi. Karena itu Gempa Bumi tak bisa diprediksi kapan terjadi.
Netty menambahkan, Tanimbar memiliki struktur sesar aktif dengan karakteristik yang kompleks. Karena itu, setiap wilayah memiliki tingkat kerentanan masing-masing dan tidak dapat dibandingkan secara sederhana antara satu daerah dengan daerah lainnya.
“Wilayah Tanimbar memang wilayah yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Kalau dari kami sebenarnya gempa bumi tidak bisa diprediksi kapan waktunya. Kami tidak bisa memprediksi dan ilmuwan di dunia ini belum ada juga yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi,” ungkapnya.
Namun, sejarah kegempaan dapat menjadi rujukan untuk membangun kewaspadaan. Gempa dengan kekuatan besar yang pernah terjadi di masa lalu, menurut dia, menjadi pengingat bahwa potensi serupa dapat kembali terjadi.
Dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami. BMKG memiliki mekanisme penyampaian informasi dan peringatan dini secara bertahap.
Informasi awal dimulai dari parameter gempa bumi yang diterima oleh sistem pemantauan. Setelah itu dilakukan pemutakhiran kondisi untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait.
Jika hasil analisis menunjukkan adanya potensi tsunam, BMKG akan menyampaikan peringatan agar masyarakat di wilayah terdampak segera melakukan evakuasi. Tahap berikutnya adalah pemutakhiran informasi hingga kondisi tsunami dinyatakan berakhir.
Tantangan lain yang masih dihadapi adalah belum meratanya edukasi mengenai evakuasi mandiri di seluruh wilayah Tanimbar. Sebagian masyarakat kata Dia, memang memiliki pengetahuan lokal mengenai cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana, namun, pemahaman mengenai jalur evakuasi yang telah ditetapkan belum sepenuhnya merata.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika ancaman tsunami berpotensi terjadi bersamaan dengan cuaca ekstrem atau banjir rob.
Situasi seperti itu, menurutnya, membutuhkan edukasi yang lebih intensif agar masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.
Kesiapsiagaan sebagai tanggung jawab bersama, di mana bagi BMKG, kesiapsiagaan bukan semata-mata tugas pemerintah atau lembaga kebencanaan. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memahami risiko dan menyiapkan diri.
Ia kembali mengingatkan pentingnya memastikan seluruh informasi kebencanaan diperoleh melalui sumber resmi BMKG. Sehingga masyarakat tidak terjebak hoaks atau informasi yang menyesatkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....