Lembaga Adat Tanimbar Jaga Negeri Ditengah Investasi

  • 10 Jun 2026 12:48 WIB
  •  Saumlaki

RRI.CO.ID, Saumlaki - Investasi mulai bergerak menuju Kabupaten Kepulauan Tanimbar, khususnya melalui proyek strategis nasional Blok Masela. Kondisi ini memunculkan satu kesadaran penting di tengah masyarakat adat.

Di tengah dinamika itu, pertemuan antara perwakilan manajemen PT Bangkit Prestasi Insani (BPI) dan para tokoh adat Tanimbar menjadi penanda lahirnya semangat kolaborasi. Untuk menjaga daerah ini di tengah situasi yang tidak menentu.

Pertemuan ini dipusatkan di kediaman Ketua Lembaga Adat Desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, Rabu (27/5/2026). Pertemuan ini melibatkan perwakilan manajemen PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), F. Noya.

Turut hadir Ketua Lembaga Adat Kecamatan Tanimbar Selatan, Liberatus Fenanlampir ( Oce . Brsama sejumlah tokoh adat dan masyarakat.

Pada kesempatan itu, F. Noya menyampaikan kegelisahan sekaligus harapannya. Terhadap masa depan Tanimbar.

Dia mengaku memahami betul dampak besar yang akan terjadi. Ketika industri energi masuk di Wilayah kepulauan.

"Saya background-nya memang orang migas, jadi saya sangat memahami ini,” ujar F. Noya.

Dia mengaku, selama bertahun-tahun dirinya melihat daerah kepulauan di Maluku. Namun sering diposisikan sebagai wilayah pinggiran dalam pembangunan.

Menurutnya, pola pembangunan yang terlalu berpusat di kota justru membuat daerah penghasil sumber daya tetap pembangunan. Harus selalu dimulai dari kota.

Padahal, pulau harus dibangun supaya bisa menopang kota. Jika tidak, Maluku akan terus terpinggirkan.

Keresahan itu, lanjutnya, menjadi alasan kuat dirinya memilih terlibat langsung dalam pengembangan sumber daya manusia di Tanimbar. Ia mengaku datang bukan sekadar membawa program, melainkan juga membawa panggilan hati.

“Saya datang bawa hati untuk Tanimbar. Dengan pengalaman 35 tahun di migas, saya total habis untuk melayani di sini,” ucapnya.

Ia menyebut masuknya investasi besar ke Tanimbar harus diantisipasi sejak dini, terutama dari sisi sosial dan budaya. Ia mengingatkan potensi gesekan akibat masuknya tenaga kerja dan pendatang dari luar daerah.

Lapisan pertama itu adat, lapisan kedua kepolisian, dan lapisan ketiga TNI. Jika lapisan adat tidak diperkuat, aparat keamanan akan kewalahan,” katanya.

Ia juga menjelaskan, konsep pengembangan yang dibawa pihaknya tidak dimaksudkan mengambil alih kewenangan adat. Sebaliknya, BPI dan Lembaga Adat ingin berjalan bersama masyarakat adat agar proses pembangunan berlangsung harmonis.

Pihaknya telah melakukan pemetaan bersama akademisi untuk mengantisipasi benturan budaya di masa depan. Salah satu gagasan yang disampaikan ialah penguatan perangkat adat melalui pelatihan sosial, hukum adat, hingga pemahaman tentang ancaman narkotika dan dampak sosial lainnya.

Menurutnya, masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama di tanah sendiri. Terutama ketika industri besar mulai beroperasi.

Ia menilai, jika lima sektor tersebut dibangun secara serius. Tanimbar tidak perlu hanya bergantung pada dana pemerintah atau pembagian hasil migas semata.

Sementara itu ketua Lembaga Adat Kecamatan Tanimbar Selatan, Liberatus Fenanlampir, menyambut baik gagasan kolaborasi tersebut. Menurutnya, kehadiran investasi memang penting untuk masa depan daerah, namun adat dan budaya tidak boleh diabaikan.

Ia mengakui, selama ini perhatian terhadap kelembagaan adat masih minim, padahal adat merupakan fondasi utama dalam menjaga keseimbangan sosial masyarakat Tanimbar.

Adat belum diberi perhatian serius, padahal ini landasan utama dalam proses-proses selanjutnya,” ujarnya.

Oce, sapaan akrabnya menegaskan, masyarakat adat mendukung investasi dan pembangunan, termasuk kehadiran proyek Blok Masela. Namun dukungan itu harus dibarengi penghormatan terhadap budaya lokal.

Oce memastikan pihaknya akan mulai mengonsolidasikan lembaga-lembaga adat di Tanimbar. Guna merespons perkembangan investasi dan perubahan sosial yang akan datang.

Sementara itu, tokoh adat sekaligus purnawirawan AKBP Polri, Lazarus Laratmasse, menegaskan hukum adat memiliki posisi yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Tanimbar.

"Polri punya kemampuan seperti apa pun, TNI punya kemampuan seperti apa pun, tetapi tidak bisa mengalahkan adat,” ujarnya.

Ia menilai, tanan adat yang diwariskan leluhur telah hidup ratusan tahun dan tidak boleh diubah oleh kepentingan luar.

Menurutnya, penguatan hukum adat justru akan membantu menciptakan stabilitas keamanan daerah.

Bagi Lazarus, proyek strategis nasional seperti Blok Masela harus menjadi berkah bagi masyarakat Tanimbar, bukan sebaliknya.

Ia menyambut Masa Depan dengan Identitas Sendiri

Pertemuan antara BPI dan lembaga adat Tanimbar itu menjadi cermin pembangunan tidak selalu harus berhadapan dengan adat.

Di tengah arus investasi dan industrialisasi, masyarakat Tanimbar justru ingin memastikan kemajuan tetap berjalan seiring dengan penghormatan. Terhadap nilai budaya dan warisan leluhur.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....