Memaknai Pembasuhan Kaki: Mengikis Kesombongan dan Menyucikan Diri dalam Perseku

  • 22 Sep 2026 14:47 WIB
  •  Saumlaki

RRI.CO.ID, Langgur – Makna teologis dari tindakan Yesus membasuh kaki para murid tidak berhenti pada pembersihan fisik semata, melainkan simbol penyucian jiwa dan penyerahan diri secara utuh kepada Tuhan. Hal itu diuraikan secara lugas oleh Pdt. Mer. E. Belwawin, S.Th., dalam khotbah Ibadah Minggu di Gereja Anugerah Ohoijang Langgur (20/09/2026).

Pdt. Mer Belwawin menguraikan dialog emosional antara Yesus dan Simon Petrus ketika Petrus sempat menolak kaki-Nya dibasuh karena merasa tidak layak. Namun, Yesus memberikan penegasan bahwa tanpa pembasuhan tersebut, Petrus tidak akan mendapat bagian dalam persekutuan kasih dan misi keselamatan bersama-Nya.

"Sering kali kita merasa diri sudah bersih, atau sebaliknya, merasa terlalu tidak layak sehingga menolak uluran kasih Tuhan. Namun, Kristus mengajarkan bahwa kesediaan untuk dibasuh adalah bentuk kerendahan hati untuk menerima pengampunan dan membiarkan firman Tuhan terus menyucikan jalan hidup kita," terang Pdt. Mer Belwawin.

Ia menambahkan bahwa di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan sarat kompetisi, sikap pride atau kesombongan spiritual dapat menjadi racun yang merusak persekutuan. Oleh karena itu, momen perenungan pembasuhan kaki ini hendaknya menjadi pengingat bagi setiap individu untuk senantiasa mengintrospeksi diri dan membersihkan hati dari dendam serta kesombongan.

Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Mer Belwawin mendorong jemaat agar meneladani kerendahan hati Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai saling mengampuni, merawat yang lemah, dan memikul beban bersama diharapkan dapat memancar kuat, baik di dalam persekutuan keluarga, lingkungan gereja, maupun di tengah-tengah masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....