Menyelami kedamaian hati melalui aktivitas tonda sonton
- 08 Mar 2026 04:32 WIB
- Saumlaki
RRI.CO.ID, Saumlaki - Di tengah hiruk-pikuk modernitas, pemuda di Desa Olilit, Kepulauan Tanimbar, punya cara unik untuk melepas penat. Bukan dengan gawai, melainkan dengan melaut. Aktivitas memancing cumi-cumi atau yang akrab disebut masyarakat lokal sebagai Tonda Sonton, kini bertransformasi menjadi tren relaksasi yang paling diminati di Desa tersebut.
Bagi warga setempat, Tonda Sonton bukan sekadar upaya mencari lauk untuk meja makan. Lebih dari itu, kegiatan ini telah menjadi semacam terapi psikologis untuk mencari ketenangan diri di tengah luasnya lautan Tanimbar.
Salah seorang pemuda Metan, asal Desa olilit mengungkapkan kepada RRI bahwa ada filosofi kesabaran di balik teknik memancing tradisional ini. Ia menjelaskan bahwa menghadapi "Sonton" (cumi-cumi) membutuhkan kepekaan perasaan dan ketenangan tangan.
"Saat sonton mulai menyambar umpan, kita tidak boleh terburu-buru. Pancing harus ditarik dengan sangat perlahan dan penuh perasaan. Jika ditarik secara kasar atau tergesa-gesa, sonton itu pasti akan terlepas dari kail," ungkap meten.
Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa momen paling puitis dari Tonda Sonton adalah ketika cuaca sedang syahdu. Menurutnya, pengalaman memancing akan terasa jauh lebih kontemplatif saat dilakukan di bawah rintik hujan gerimis.
Sambil duduk di atas perahu kecil (sampan) dan mendayung perlahan di perairan yang tenang, suara gesekan dayung dan tetesan hujan menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Kesunyian laut memberikan ruang bagi para pemuda untuk merefleksikan diri, jauh dari kebisingan rutinitas harian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kearifan lokal seperti Tonda Sonton memiliki nilai ganda yaitu menjaga ketahanan pangan masyarakat pesisir sekaligus menjaga kesehatan mental generasi muda melalui interaksi yang harmonis dengan alam.