Tiga Faktor Ini Picu Antrean Pertalite di Kabupaten Sanggau

  • 29 Sep 2026 18:32 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau – Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sanggau, Shopiar Juliansyah menyebut, terdapat tiga faktor yang memengaruhi kondisi distribusi dan antrean Pertalite di Kabupaten Sanggau. Faktor tersebut meliputi penyesuaian distribusi dari Pertamina, peningkatan konsumsi Pertalite, serta bertambahnya pengecer yang membeli BBM di SPBU untuk dijual kembali.

“Kalau saya lihat, yang pertama itu dikarenakan penyesuaian distribusi BBM dari Pertamina. Ini disebabkan salah satunya adalah penyaluran BBM ke Depot Sintang itu terhambat karena kemarau, sehingga ponton yang mengangkut BBM dari Pontianak kepada Depot Pertamina Sintang itu tidak bisa dilakukan,” ujar Shopiar, Selasa 29 September 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat distribusi BBM untuk Kabupaten Sanggau yang sebelumnya berasal dari Depot Sintang dan Depot Pontianak harus seluruhnya dipasok dari Depot Pontianak. Perubahan pola distribusi itu juga diikuti kendala armada dan awak angkut yang berdampak pada proses pengiriman BBM ke sejumlah SPBU.

“Sehingga ada kendala di Depot Pontianak itu adalah armada angkutnya dan awak angkutnya. Yang seyogianya misalnya di SPBU Bunut ini harus diangkut dengan armada 16 KL, ternyata armada yang ada itu hanya 8 KL, akhirnya diangkut dulu 8 KL, kemudian nanti disusul lagi 8 KL,” jelasnya.

Selain distribusi, Shopiar menyebut peningkatan konsumsi Pertalite turut memengaruhi kondisi penyaluran BBM di Sanggau. Ia menjelaskan, perubahan harga Pertamax membuat sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax beralih menggunakan Pertalite, sementara kuota Pertalite Kabupaten Sanggau telah ditetapkan sejak awal.

“Dengan adanya perubahan harga, Pertamax meningkat jadi 16 sekian, Pertalite tetap 10, selisihnya cukup jauh, jadi konsumen yang awalnya menggunakan Pertamax ini sebagian beralih menggunakan Pertalite. Sehingga kebutuhan konsumsi Pertalite ini semakin bertambah, sedangkan kuota Pertalite di Kabupaten Sanggau ini tetap,” katanya.

Ia juga menyoroti bertambahnya pengecer yang membeli Pertalite di SPBU untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat. Menurutnya, selisih harga antara Pertamax dan Pertalite membuka peluang ekonomi bagi sebagian masyarakat untuk melakukan penjualan eceran, sehingga ikut menambah antrean di SPBU.

“Yang ketiga, dengan selisih harga Pertamax dengan Pertalite yang cukup tinggi, ini menyebabkan menjamurnya pengecer-pengecer. Pengecer-pengecer ini menjamur, yang dulu tidak ada pengecer, ini ada kesempatan ekonomi menurut mereka, mereka melakukan eceran, sehingga mereka ikut antre dengan kendaraannya, kemudian mereka menjual kembali,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....