Hotspot Turun Jadi 4 Titik di Sanggau, Satgas Tetap Waspada

  • 06 Sep 2026 21:11 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau – Hari ini, jumlah hotspot atau titik panas Karhutla di Kabupaten Sanggau menurun drastis menjadi empat titik setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah. Sekretaris Satgas Penanganan Karhutla Kabupaten Sanggau, Didit Richardi mengatakan, empat hotspot terpantau berdasarkan data data BMKG-BRIN pada Minggu, 6 September 2026 pukul 09.00 WIB.

“Untuk titik hotspot perkembangannya, ini alhamdulillah berdasarkan data dari BMKG-BRIN, ini satu aplikasi yang kami pakai sampai ke provinsi, bahwa titik hotspot kita menurun drastis hanya tinggal empat, itu pun tingkat kepercayaannya menengah pada hari ini jam 9.00 pagi,” kata Didit di Posko Satgas Penanganan Karhutla Sanggau, TRC BPBD Sanggau.

Ia menjelaskan, penurunan tersebut terlihat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi saat status tanggap darurat bencana ditetapkan pada 24 Agustus 2026 lalu. Berdasarkan data BMKG-BRIN pada 24 Agustus pukul 23.59 WIB, tercatat 144 hotspot dengan rincian empat titik tingkat kepercayaan rendah, 113 titik tingkat kepercayaan menengah, dan 27 titik tingkat kepercayaan tinggi.

“Kalau kita bandingkan 24 Agustus jam 23.59, itu 144 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah itu empat, menengah 113, dan 27 itu high atau tingkat kepercayaan tinggi,” ujarnya.

Menurut Didit, penurunan hotspot tidak terlepas dari kerja keras Satgas lintas instansi dan masyarakat melalui operasi darat. Upaya tersebut juga didukung Teknologi Modifikasi Cuaca atau TMC yang dilakukan untuk membantu mendatangkan hujan di wilayah terdampak kemarau.

“Kerja keras semua Satgas di sini yang ada di Kabupaten Sanggau, lintas instansi, lintas sektor itu termasuk masyarakat itu sama-sama melakukan operasi darat melalui Satgas darat itu berhasil menekan titik hotspot kita,” jelasnya.

Didit menambahkan, hujan yang turun turut membantu menekan hotspot di sejumlah wilayah Sanggau. Berdasarkan catatan sementara BMKG, curah hujan yang terjadi mencapai 0,9 milimeter per hari dan masuk kategori hujan ringan karena berlangsung singkat serta tidak merata di seluruh 15 kecamatan.

“Jadi ini yang dapat kami sampaikan kepada masyarakat, bahwa hujan yang kemarin bukan berarti mengakhiri musim kemarau kita. Karena menurut ramalan BMKG, musim kemarau kita masih panjang,” katanya.

Ia meminta masyarakat tetap waspada terhadap ancaman Karhutla meski jumlah hotspot telah menurun drastis. Ia menyampaikan, menurut prakiraan BMKG, puncak kemarau terjadi pada Agustus dan September, kemudian mulai melandai pada Oktober 2026.

“Semoga kita semua berharap di Satgas ini juga sama masyarakat, semoga kita masih bisa bertahanlah, menghemat air, bahu-membahu untuk sama-sama mengatasi Karhutla dan kabut asap ini,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....