Ini Cara Memanfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Karya Tulis Ilmiah
- 02 Okt 2026 22:10 WIB
- Sanggau
RRI.CO.ID, Sanggau - Di tengah kemudahan teknologi kecerdasan buatan, menulis karya ilmiah kini tidak hanya berhadapan dengan tantangan mencari referensi, tetapi juga bagaimana menjaga kemampuan berpikir tetap berjalan. Bagi penulis karya tulis ilmiah berprestasi, Qory Fasdatul Jannah, AI justru dapat menjadi teman belajar selama penggunaannya tetap berada dalam kendali penulis.
Pengajar di Taman Pendidikan Quran Masjid An-Nur Sintang sekaligus lulusan Ilmu Al Quran dan Tafsir IAIN Pontianak tersebut mengatakan, kehadiran kecerdasan buatan tidak semestinya dianggap sebagai hambatan dalam proses menulis. Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu proses berpikir, mencari gagasan, hingga memberikan masukan terhadap karya.
“Sebenarnya kita jangan menjadikan kecerdasan buatan itu sebagai hambatan ya bagi kita. Bahkan kita bisa memposisikan kecerdasan buatan itu sebagai teman atau partner belajar,” ujar Qory dalam Obrolan Sore Ceria RRI Pro 2 Sanggau, Jumat, 2 Oktober 2026.
Qory menjelaskan, kecerdasan buatan dapat diibaratkan seperti kalkulator yang membantu seseorang melakukan perhitungan, tetapi tidak menggantikan pemahaman terhadap persoalan yang sedang dihitung. Karena itu, penulis tetap perlu memahami topik, menentukan arah pembahasan, serta menuangkan pemikirannya sendiri sebelum meminta bantuan kecerdasan buatan.
“AI itu alat bantu kita untuk misal mencari sesuatu, untuk kita brainstorming, tapi kita harus tahu gitu. Dan kecerdasan buatan itu harus kita kasih makan juga kan teman-teman, kita tidak bisa tiba-tiba membuka kecerdasan buatan, kita minta nih kecerdasan buatan tolong buatkan aku satu paper gitu ya, karya ilmiah, 1-15 halaman tentang tema ini,” jelas Qory.
Ia mengatakan, penggunaan kecerdasan buatan secara berlebihan justru berisiko membuat seseorang terlalu bergantung dan kehilangan proses berpikir yang seharusnya menjadi bagian penting dalam penulisan ilmiah. Menurutnya, kecerdasan buatan lebih tepat digunakan untuk berdiskusi, mencari alternatif diksi, melakukan brainstorming, maupun membantu memberikan sudut pandang lain ketika penulis mengalami kebuntuan.
“Kadang ada hal-hal yang mungkin kita terlewati gitu ya, saya pernah dapat nasihat dari mentor saya, se-pro apapun kita, seberpengalaman apapun kita, kita harus punya teman yang bisa membaca karya kita,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....