AI Boleh Bantu Menulis, tapi Jangan Gantikan Otak untuk Berpikir

  • 01 Sep 2026 20:46 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat proses menulis kini semakin mudah, mulai dari mencari gambaran awal sebuah topik hingga membantu mengembangkan ide. Namun bagi penulis karya tulis ilmiah Al Quran dan Hadis berprestasi, Siti Zahraini, kemudahan tersebut tetap harus disertai kemampuan membaca, meneliti dan menganalisis agar penulis tidak kehilangan kendali atas gagasannya sendiri.

Siti Zahraini mengatakan, AI pada dasarnya dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan karya tulis selama ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Menurutnya, teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperoleh gambaran awal mengenai suatu topik, tetapi hasilnya tetap perlu dipadukan dengan literatur dan pemikiran penulis sendiri.

“Kalau menurut saya, AI sejatinya boleh dimanfaatkan dalam proses membuat karya tulis. Tapi posisinya hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir kita dan proses penulisan kita,” kata Aini dalam Obrolan Sore Ceria RRI Pro 2 Sanggau, Selasa, 1 September 2026.

Aini menjelaskan, dirinya juga memanfaatkan AI untuk mencari gambaran awal mengenai ruang lingkup maupun persoalan yang sedang berkembang. Namun, informasi yang diperoleh dari teknologi tersebut tidak langsung digunakan sebagai bahan tulisan, melainkan kembali diperiksa melalui berbagai literatur sebelum dipadukan dengan hasil pemikiran penulis.

Ia menekankan, batas penggunaan AI terletak pada jangan sampai teknologi tersebut membuat penulis kehilangan proses membaca, meneliti dan menganalisis, terlebih ketika menyusun karya ilmiah yang berkaitan dengan Al Quran dan Hadis. Setiap ayat, hadis, tafsir, sumber relevan serta data yang digunakan tetap perlu diperiksa kembali agar informasi yang dimasukkan ke dalam tulisan dapat dipertanggungjawabkan.

“Karena kita juga tidak diperbolehkan untuk selalu percaya dengan jawaban AI. Karena AI juga bisa memberikan informasi yang keliru atau referensi yang salah,” jelas Aini.

Kemampuan berpikir kritis tetap menjadi bagian penting meskipun teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan penulis. Prinsip tersebut menjadi semakin penting karena sebuah karya tulis tidak hanya dinilai dari seberapa cepat tulisan selesai, tetapi juga dari orisinalitas gagasan, ketepatan sumber dan kemampuan penulis dalam memahami serta menganalisis persoalan yang diangkat.

“AI boleh membantu tangan kita untuk menulis, tetapi jangan sampai menggantikan kepala kita untuk berpikir. Jadi supaya lebih original karya yang dihasilkan, dan juga tidak menggantikan posisi otak kita untuk berpikir, untuk menganalisa juga,” tutup Aini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....