Kayuhan Sunyi di Ujung Senja Ramadan
- 08 Mar 2026 13:24 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Derit roda becak terdengar pelan di Pangkalan Pasar Degedek, Sampang. Di tengah keramaian warga yang berburu kebutuhan berbuka puasa, seorang tukang becak tetap setia menanti penumpang di bulan Ramadan. Suasana pasar yang riuh seolah kontras dengan kesabaran seorang pria yang duduk di atas becaknya, menunggu rezeki datang di ujung hari.
Zainullah, warga Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan, menjalani puasa sambil tetap mengayuh becaknya setiap hari. Sejak pagi hingga menjelang magrib, ia mangkal di sudut pasar. Ramadan baginya tidak berbeda jauh dengan hari biasa, tetap bekerja meski menahan lapar dan dahaga.
“Saya tetap menarik becak seperti biasa. Puasa bukan alasan untuk berhenti bekerja,” ujar Zainullah dengan suara tenang, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurut Zainullah, suasana pasar saat Ramadan memang lebih ramai. Kondisi itu kadang memberi tambahan penghasilan bagi dirinya. Dalam sehari ia bisa membawa pulang sekitar dua ratus ribu rupiah, bahkan pernah mencapai empat ratus ribu rupiah ketika pasar mulai padat menjelang waktu berbuka. “Kalau Ramadan biasanya lebih ramai, kadang penghasilan bisa sampai empat ratus ribu rupiah,” katanya.
Rasa haus kerap memaksanya berhenti sejenak dari kayuhan. Ia memilih berteduh di bawah pohon di sekitar pasar untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja. “Kalau sudah terasa haus sekali, saya biasanya berhenti sebentar di bawah pohon,” tutur Zainullah.
Meski demikian, ia mengaku hampir tidak pernah benar-benar sepi penumpang. Selalu ada saja warga yang memanfaatkan becaknya untuk berbelanja atau pulang ke rumah dari pasar. “Alhamdulillah masih ada saja yang naik becak, jadi saya tetap menunggu sampai magrib,” ujarnya.
Hingga senja tiba, Zainullah masih setia menunggu azan magrib sebagai penanda berakhirnya aktivitas hari itu. Hasil dari mengayuh becak digunakannya untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan dua anaknya. Terkadang ia berbuka di rumah bersama keluarga, namun tak jarang pula berbuka sederhana di sekitar pasar.
Di antara roda becak yang terus berputar, Zainullah menggantungkan harapan pada setiap kayuhan. Ramadan menjadi saksi perjuangannya menjaga nafkah dan asa keluarga di tengah hiruk-pikuk pasar yang tak pernah benar-benar sepi.