Menjaga Asa di antara Deru Motor
- 25 Feb 2026 13:04 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Deru sepeda motor bersahutan di sudut Pasar Kota Sampang. Di tengah panas aspal dan debu jalanan, seorang juru parkir tetap berdiri tegak menjalankan tugasnya di bulan Ramadan. Peluit kecil tergantung di lehernya, sesekali ditiup untuk mengatur kendaraan yang keluar masuk tanpa henti.
Namanya Abil Hasan, 47 tahun, warga Desa Pangilen, Kecamatan Kota Sampang. Ia adalah ayah dari empat anak yang setiap hari mengatur arus kendaraan di area pasar. Bagi Abil, Ramadan bukan tentang menunggu waktu berbuka di rumah, melainkan tetap bekerja sambil menahan lapar dan dahaga.
“Kalau saya tidak masuk, ya tidak ada pemasukan hari itu,” ujarnya pelan sembari merapikan rompi parkir yang mulai pudar warnanya.
Sejak pagi hingga menjelang magrib, ia berdiri di titik yang sama. Tidak ada hari libur selama bulan puasa, karena penghasilannya bergantung pada keramaian pasar.
Ia mengaku tantangan terberat adalah saat matahari berada tepat di atas kepala. Tubuh berkeringat dan tenaga cepat terkuras, sementara kendaraan terus berdatangan.
“Paling berat itu jam dua sampai jam empat sore. Rasanya haus sekali, tapi harus tetap fokus,” katanya.
Meski demikian, Abil tetap sigap. Tangannya memberi aba-aba, kakinya bergerak lincah menghindari sela-sela kendaraan. Ia menyadari satu kesalahan kecil bisa berujung pada kemacetan atau gesekan antar pengendara.
“Yang penting kendaraan tertata dan orang merasa terbantu,” tuturnya.
Menjelang waktu berbuka, ia hanya berharap azan segera terdengar. Berbukanya sederhana, cukup air mineral dan gorengan yang dibeli dari sisa uang parkir hari itu.
“Alhamdulillah, yang penting bisa berbuka. Setelah itu lanjut lagi kalau masih ramai,” ucapnya.
Di balik rompi parkir yang dikenakan setiap hari, tersimpan harapan besar untuk keluarganya. Ia ingin keempat anaknya tumbuh dengan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.
“Saya tidak ingin anak-anak merasakan susah seperti saya. Biar saya saja yang berdiri di sini,” katanya.
Ramadan, bagi Abil, adalah latihan kesabaran sekaligus penguat tekad di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan kerasnya kehidupan kota.