Seumajoh Kicchin, Cerita Pasang Surut Pelaku UMKM Aceh

  • 24 Des 2025 12:18 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Krisis pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi Rinni Rummaissa, pelaku UMKM kuliner asal Banda Aceh. Saat usaha katering dan nasi gurihnya terhenti akibat pembatasan aktivitas, Rinni justru menemukan peluang baru melalui produk serundeng bermerek Seumajoh Kicchin yang kini menjadi penopang utama ekonomi keluarganya.

Rinni menuturkan, keputusan memproduksi serundeng diambil ketika pandemi membuat hampir seluruh lini usaha kuliner mengalami penurunan drastis. Ia melihat serundeng—yang semula hanya pelengkap nasi gurih—memiliki permintaan relatif stabil dari pelanggan.

“Waktu COVID semua usaha turun. Saya harus mencari produk yang bisa diandalkan, dan ternyata serundeng ini yang paling bertahan,” ujarnya dalam Dialog UMKM Talk’s RRI Banda Aceh, Senin (22/12/2025).

Nama Seumajoh Kicchin diambil dari kata “seumajoh” dalam bahasa Aceh yang berarti makan, dipadukan dengan kata “kicchin” yang merepresentasikan dapur modern dan kehangatan keluarga. Filosofi tersebut menjadi identitas produk yang menonjolkan cita rasa rumahan dalam kemasan praktis.

Dari sisi produksi, Rinni menekankan konsistensi kualitas sebagai kunci keberlangsungan usaha. Ia hanya menggunakan kelapa pilihan dengan tingkat kematangan tertentu serta bumbu racikan sendiri tanpa bahan instan.

“Kelapa yang terlalu tua atau terlalu muda bisa memengaruhi rasa dan daya tahan produk. Jadi harus benar-benar pas,” katanya.

Saat ini, Seumajoh Kicchin memproduksi dua varian utama, yakni original dan pedas, serta tengah mengembangkan varian baru berbahan udang.

Untuk pemasaran, penjualan masih didominasi pesanan langsung melalui WhatsApp dan jaringan pelanggan lama, meski sebagian produk telah masuk ke sejumlah swalayan lokal. Ke depan, Rinni berencana memperluas jangkauan pasar melalui platform digital seperti TikTok dan Shopee agar serundeng khas Aceh dapat menjangkau konsumen luar daerah.

Sebagai pelaku UMKM, Rinni berharap peningkatan penjualan dapat membuka peluang kerja baru, khususnya bagi anak muda dan lulusan tata boga. Ia juga mendorong generasi muda yang ingin terjun ke usaha kuliner agar serius melakukan riset pasar dan tidak mudah menyerah. “Awal usaha tidak selalu manis. Harus terus berinovasi dan tetap semangat,” tuturnya.

Kisah Seumajoh Kicchin mencerminkan ketangguhan UMKM lokal Aceh dalam bertahan dan bangkit dari krisis melalui inovasi produk, konsistensi kualitas, serta pemanfaatan jejaring pelanggan.

Rekomendasi Berita