UMKM Cokbang Kembangkan Agrowisata Cokelat di Sabang
- 19 Des 2025 08:58 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Setelah Sukses mendongkrak kesejahteraan petani kakao lokal, UMKM Cokbang kini mulai melebarkan sayap dengan mengembangkan konsep agrowisata industri. Unit usaha yang telah menjadi ikon oleh-oleh cokelat khas Sabang ini, bertransformasi menjadi destinasi wisata edukasi untuk memperkenalkan proses pengolahan kakao dari hulu hingga ke hilir.
Kepala Produksi Cokbang Melan Deta Diansyah mengatakan Cokbang berdiri dari keprihatinan terhadap kondisi petani kakao di Sabang. Pada awalnya, harga kakao di tingkat petani tergolong rendah hanya berkisar Rp13 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani sulit meningkatkan kesejahteraan.
Padahal, menurut Melan, kakao memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi jika diolah menjadi produk cokelat. Sementara di Sabang sendiri, tanaman kakao sudah ada sejak tahun 1990-an, namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai produk olahan khas daerah.
“Dari situ kami ingin membangun Cokbang, supaya kakao Sabang tidak hanya dijual sebagai biji, tapi diolah menjadi cokelat dengan nilai tambah,” ujar Melan Jumat (19/12/2025).
Seiring berkembangnya usaha, lanjutnya, Cokbang mulai fokus pada peningkatan kualitas biji kakao. Saat ini, Cokbang bekerja sama dengan sekitar 30 petani binaan. Para petani tersebut didampingi untuk memperbaiki kebun, mulai dari perawatan tanaman hingga proses pascapanen, termasuk fermentasi.
Pendampingan ini berdampak langsung pada peningkatan harga kakao. Jika sebelumnya petani hanya menjual kakao dengan harga Rp13 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram, kini harga kakao konvensional mencapai Rp70 ribu per kilogram. Sementara kakao fermentasi dapat dijual hingga Rp150 ribu per kilogram.
“Kalau kualitasnya bagus, tentu harganya juga naik. Itu yang kami dorong ke petani,” kata Melan.
Dalam pengembangannya, Cokbang juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Bantuan datang dari Rumah BUMN Telkom yang kemudian menghubungkan Cokbang dengan Bank Indonesia. Dukungan juga diberikan oleh BSI Maslahat, Pertamina Sabang, Baitul Mal Aceh, dan Rumah Zakat Aceh.
Bantuan tersebut berupa mesin produksi, pembinaan, hingga perbaikan fasilitas. Dengan dukungan ini, jumlah produk Cokbang meningkat dari empat menjadi 14 jenis. Omzet usaha pun naik signifikan, dari sebelumnya puluhan juta rupiah menjadi ratusan juta rupiah per tahun.
Meski demikian, Melan mengakui Cokbang masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Kapasitas produksi saat ini baru sekitar 10 kilogram per hari, sementara permintaan pasar terus meningkat. Selain itu, fasilitas pendukung seperti kafe dan sarana penunjang lainnya masih dalam tahap pengembangan.
“Kami ingin Cokbang ini benar-benar menjadi identitas cokelatnya Sabang. Tapi untuk ke sana, kami masih perlu peningkatan kapasitas mesin dan fasilitas,” ujarnya.
Sebagai langkah inovasi, Cokbang kini mulai mengembangkan konsep agrowisata industri cokelat. Melalui konsep ini, wisatawan diajak mengunjungi kebun kakao untuk melihat langsung proses pemetikan buah, pemangkasan pohon, pengeringan, hingga fermentasi biji kakao.
Setelah dari kebun, pengunjung akan diajak ke tempat produksi Cokbang. Di lokasi ini, wisatawan dapat mencetak cokelat sendiri dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh khas Sabang.
“Sabang selama ini dikenal dengan wisata bahari. Lewat agrowisata cokelat, kami ingin menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dan edukatif,” kata Melan.
Konsep agrowisata ini sudah mulai berjalan dan mendapat respons positif dari pengunjung, termasuk wisatawan dari luar daerah. Selain memperkaya pilihan wisata di Sabang, agrowisata cokelat ini juga menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan kakao Sabang yang memiliki cita rasa khas dan telah melalui uji laboratorium.
Melalui pengembangan usaha dan agrowisata ini, Cokbang berharap kakao Sabang semakin dikenal luas, sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani kakao dan masyarakat setempat.